TRAVELING

Rupiah Jadi Raja Asia Karena Suntikan Dana Triliunan

EkbisNews.com – Mayoritas mata uang Asia mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (20/11/2023). Hal ini terjadi pasca inflasi AS melandai dan optimisme pasar bahwa bank sentral AS (The Fed) tidak akan menaikkan suku bunganya lagi.

Dilansir dari Refinitiv, pukul 09.26 WIB, apresiasi mata uang Asia dipimpin oleh rupiah Indonesia yang menguat 0,45% terhadap dolar AS secara harian. Posisi kedua ditempati oleh yuan China yang naik sebesar 0,24%.

Namun sedikit berbeda dengan rupee India yang justru mengalami depresiasi 0,02% di tengah penurunan indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,12% di angka 103,79.

Rupiah menguat tajam setelah dana asing masuk deras ke pasar keuangan Indonesia.

Bank Indonesia (BI) merilis data transaksi 13 – 16 November 2023, investor asing di pasar keuangan domestik tercatat beli neto Rp7,33 triliun (beli neto Rp2,49 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN), beli neto Rp0,87 triliun di pasar saham, dan beli neto Rp3,97 triliun di Sekuritas Rupiah (SRBI).

Hal ini berkebalikan dengan data transaksi 6 – 9 November 2023 yang tercatat investor asing mencatat net sell sebesar Rp 1,27 triliun. Mereka keluar dari pasar domestik baik di pasar SBN maupun di pasar saham.

Lihat Juga  CSR Sukses OKI Pulp Raih “Top CSR Award” dan “Top Leader on CSR Commitment" 2022

Catatan net buy sebesar Rp 7,33 triliun pada pekan ini adalah yang tertinggi sejak pekan pertama Mei 2023 atau lebih dari enam bulan terakhir.

Inflasi konsumen AS (CPI) terpantau melandai ke 3,2% (year on year/yoy) pada Oktober 2023, lebih rendah dibandingkan 3,7% (yoy) pada September serta di bawah ekspektasi pasar (3,3%). Ini adalah kali pertama inflasi AS melandai dalam empat bulan terakhir. CPI Inti juga masih berjalan pada tingkat 12 bulan sebesar 4%.

Sementara inflasi produsen AS (PPI) juga lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya menjadi 1,3% yoy atau lebih rendah dibandingkan periode September yang berada di angka 2,2% yoy. Kontraksi ini adalah yang pertama sejak Mei dan terbesar sejak April 2020.

“Kami semakin dekat,” kata Crandall. “Data yang kami peroleh minggu ini konsisten dengan apa yang ingin Anda lihat saat bergerak ke arah tersebut. Tapi kami belum mencapai tujuan.” ujar Lou Crandall, Kepala Ekonom di Wrightson ICAP, dikutip dari CNBC International.

Sebagai catatan, target bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) sendiri untuk inflasi AS yakni di level 2%.

Lihat Juga  Umroh Bersama Mega Wisata Tour's, Pelayanan Prima dan Keakraban

Dari hasil tersebut, para pedagang menghapus spekulasi bahwa The Fed akan menaikkan biaya pinjaman lebih lanjut dan beralih ke penurunan suku bunga. Dolar AS dan imbal hasil US Treasury pun ambruk.

Hal ini tercermin dari perangkat CME Fedwatch yang menunjukkan bahwa pelaku pasar berekspektasi The Fed akan menahan suku bunganya pada Desember 2023 dan Januari 2024. Sementara 59,1% pelaku pasar memproyeksikan bahwa The Fed akan melakukan cut rate pertamanya pada Mei 2024 sebesar 25 basis poin (bps).

CMEFoto: Meeting Probabilities
Source: CME Fedwatch Tool

Penetapan harga kontrak berjangka pada hari Rabu (15/11/2023) menunjukkan tidak ada kemungkinan kenaikan tambahan pada siklus ini dan penurunan poin persentase kuartal pertama akan terjadi pada bulan Mei, diikuti oleh penurunan poin persentase lainnya pada bulan Juli, dan kemungkinan dua kali lagi sebelum akhir tahun 2024, menurut CME Group’s gauge of pricing dalam fed funds futures market.

Jika benar, hal ini akan menurunkan suku bunga acuan ke kisaran target 4,25%-4,50% dan akan dua kali lebih agresif dari kecepatan yang dicanangkan pejabat Fed pada bulan September lalu.

CNBC INDONESIA RESEARCH

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button