LifeStyle

Perilaku Pendengar Radio pada Era Digital

Oleh : Maspril Aries
Wartawan Utama/ Penggiat Kaki Bukit Literasi

Radio di Indonesia seperti lagu Queen “Radio Gaga” yang dilantunkan Freddie Mercury “Radio, someone still loves you.”

Hari gini masihkah anda mendengar radio? Di mana anda mendengarnya?  Pertanyaan itu terlontar entah tahun berapa?  Persisnya saya lupa. Kini pada era digital saya teringat kembali pertanyaan itu.

Dimana mendengar siaran radio? Mungkin dulu lebih banyak di rumah, karena radio portable masih banyak dijual dan tersedia di toko elektronik. Tapi sekarang di era digital orang mendengar radio melalui perangkat teknologi informasi seperti komputer, laptop atau ponsel (telepon seluler). Sekarang juga orang banyak mendengarkan radio di jalan saat berkendaraan, khususnya di kota-kota besar untuk mendengar informasi jalanan yang macet dan musik.

Pakar ilmu komunikasi Wilbur Schramm menganggap radio sebagai ”media besar”. Radio memiliki keunggulan dengan karakteristiknya yang simultan, radio punya terobosan untuk menggaet khalayak atau pendengarnya. Secara kultural, radio juga lebih akrab dengan pendengarnya. Untuk era milenial, silahkan diuji, pendengar/ pemirsa radio masihkah lebih tinggi dibandingkan media yang lain.

Coba dengar radio-radio di daerah, banyak siarannya menggunakan bahasa daerah setempat. Itu berarti radio masih dapat memenuhi selera khalayaknya. Di Indonesia radio adalah media komunikasi bagi informasi pembangunan yang jangkauannya sampai di wilayah pedesaan.

Radio pun mampu menciptakan sense of personal acces atau suatu bentuk partisipasi pendengar yang hidup dimana pendengar dapat terlibat dalam siarannya.

Radio juga kini telah mengalami pergeseran dari pola konvensional menuju pola yang modern. Kehadiran internet telah membuat radio berubah, ditandai dengan munculnya radio internet, program acara yang interaktif dan berita aktual serta kepemilikan yang terbuka.

Namun kehadiran radio di era digital saat ini masih tetap seperti dulu. Radio adalah media yang paling merakyat, dan diminati banyak masyarakat untuk didengar siarannya. Sebagai sarana kom unikasi radio unggul dalam kecepatan dan accessible penyebar informasi. Dapat didengar di daerah pelosok yang belum memiliki aliran listrik. Mendengar radio anda tidak perlu bisa membaca, karena mereka yang buta huruf tidak akan mengalami kendala saat mendengarkan radio. Selain itu fleksibel bisa didengar kapan saja dan dimana saja.

Sekarang kalau mau mendengar radio apakah harus mendengar siaran RRI (Radio Republik Indonesia)? Ya tidak juga. Namun kini pada era digital RRI sedikit lebih unggul di banding radio-radio swasta. RRI unggul dalam jumlah jam siaran dan jaringan, siarannya selama 24 jam dalam sehari. RRI sangat peduli dan merespon dengan cepat perkembangan teknologi informasi berikut aplikasinya.

Untuk mendengar RRI sekarang bisa menggunakan perangkat digital karena RRI memiliki aplikasi berbasis sistem android dan iOS yang dapat diunduh, antara lain RRI Play Go dan RRI Sprint, bahasa promosinya “RRI dalam genggaman.” Tidak perlu lagi membeli radio portable.

Digitalisasi penyiaran telah terjadi di RRI dan ini memberikan banyak keunggulan. Keunggulan tersebut menurut M Rohanudin dalam “RRI Play Strategi Memenangkan Persaingan Global” (2014), pertama : efisien dalam hal penggunaan frekuensi. Kedua, kualitas audio yang diterima oleh pendengar bermutu tinggi sehingga cocok untuk mempresentasikan penyiaran musik. Ketiga, terdapat kemudahan akses bagi khalayak dibandingkan dengan sistem analog.

Lihat Juga  Hipmi Palembang Peduli Semprot Disinfektan

Kini banyak radio yang menggunakan streaming sebagai media sehingga siapa pun dapat mendengarkan siaran sekalipun tidak punya perangkat radio. Streaming telah membantu siaran radio bisa didengar pendengarnya dimana pun berada.

Ketika masa berubah, ketika teknologi berubah adakah radio-radio di Indonesia melakukan riset pendengar, seperti guna mengetahui perubahan persepsi pendengar, apa yang mereka butuhkan secara saat mendengarkan radio? Masih adakah riset atau survei berapa jumlah pendengar radio di suatu daerah/ kota.

Dulu Badan Pusat Statistik (BPS) punya  survei yang menggambarkan “Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Mendengar Radio.” Hasil survei dari BPS dulu melaporkan jumlah pendengar radio di seluruh Indonesia. Menurut angka persentase dari BPS sejak sekitar 10 tahun lalu pendengar radio makin menurun.

Data BPS tahun 2003 jumlah pendengar radio 50,29 persen. Tahun 2006 sebanyak 40.26 persen, tahun 2009 sebanyak 23,50 persen, tahun 2012 angkanya 18,57 persen. Walau terjadi penurunan pendengar radio tetap masih ada.

Walau pendengar radio menurun menurut BPS namun radio belum mati seperti stop terbitnya sejumlah surat kabar, tabloid dan majalah di Indonesia. Radio di Indonesia seperti lagu Queen “Radio Gaga” yang dilantunkan Freddie Mercury “Radio, someone still loves you.”

Memang radio masih ada, pada peringatan Hari Radio Nasional setiap 11 September masih ada seseorang yang mencintai radio. Patut diakui, radio adalah media yang bisa memberikan informasi dengan cepat sampai jauh ke pelosok negeri. Justru pada era digital ini radio masih memiliki peran di besar tengah masyarakat, karena radio bisa didengar melalui perangkat telepon seluler (ponsel) pintar atau smartphone.

Mengutip dari laporan Newzoo, tahun 2020 bahwa pengguna ponsel pintar atau smartphone terbesar di dunia ada di Tiongkok dengan jumlah 911,9 juta pengguna. Kemudian disusul India dengan 439,4 juta pengguna, Amerika Serikat dengan 270 juta pengguna atau penetrasi smartphone di negera Paman Sam tersebut mencapai 81,6 persen dari total populasi.

Nah Indonesia berada di peringkat keempat dengan 160,23 juta pengguna atau dengan penetrasi smartphone di Indonesia mencapai 58,6 persen dari total populasi. Dari jumlah tersebut belum ada survei yang menyebutkan berapa dari pemilik smartphone tersebut yang menjadi pendengar radio?

Lihat Juga  Wow, Antusiasme film Avengers: Endgame! Penonton Rela Antre Sejak Subuh

Berarti kehadiran teknologi internet pada era digital tidak membuat radio kehilangan pendengarnya. Teknologi memberikan kesempatan kepada pendengar radio untuk bisa mendengar siaran radio melalui akses radio secara konvesional atau layanan radio streaming.

Seperti kata Queen, “Radio, someone still loves you.” Berdasarkan laporan situs Nielsen Radio Audience Measurement tahun 2016 menunjukkan penestrasi media radio mencapai angka 38 persen atau dengan asumsi radio masih didengar oleh sekitar 20 juta orang pendengar di Indonesia. Hasil tersebut juga menunjukan 57 persen dari total pendengar radio berasal dari generasi Z dan milenial atau konsumen masa depan.

Kemudian data lainnya, waktu mendengarkan radio perminggu dari tahun ke tahun ada peningkatan. Tahun 2014 pendengar radio hanya menghabiskan waktu 16 jam perminggunya. Tahun 2015 meningkat menjadi 16 jam 14 menit, dan tahun 2016 menjadi 16 jam 18 menit. Pada masa pandemi Covid-19 bisa jadi waktu mendengar radio mengalami peningkatan.

Ke depan radio-radio yang ada di Indonesia sudah harus melakukan riset terhadap perilaku pendengarnya. Biasanya di lingkungan perguruan tinggi khususnya mereka yang bergelut dengan ilmu komunikasi untuk mengetahui perilaku pendengar menggunakan teori “Uses and Gratifications.”

Teori ini menjelaskan tentang bagaimana audiensi memilih media yang mereka inginkan. Audiensi atau khalayak secara aktif memilih dan memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda–beda di dalam mengkonsumsi media. Audiensi bertanggung jawab untuk memilih media guna memenuhi kebutuhan mereka.

Berdasarkan teori tersebut menurut H Mendelsohn dalam “Listening to the radio,” mengidentifikasi beberapa motivasi orang mendengarkan radio : persahabatan, mengisi kekosongan yang diciptakan oleh rutinitas sehari-hari, mengubah suasana hati, menghilangkan kebosanan, memberikan berita dan informasi, memungkinkan partisipasi aktif dalam acara, dan mengatasi isolasi sosial.

Walau kini telah berada pada era digital, tetap kenali para pendengar radio tersebut. Anda mendengar radio untuk apa? Untuk mencari informasi, mendengarkan musik, mengisi waktu luang, karena suara radionya yang jernih atau karena alasan suara penyiarnya yang anda rindukan?

Kemudian identifikasi juga bahwa tidak ada khalayak atau pendengar radio yang betul-betul loyal. Mereka bisa dengan mudah berpindah saluran berkat kemudahan teknologi.

Apa benar, pendengar radio sekarang ini hanya mau mendengar informasi ringan-ringan tanpa membuat kening berkerut? Buktinya di kota-kota besar para pendengar radio hanya mencari dan mendengar informasi tentang arus atau kemacetan lalu lintas atau mendengarkan musik di tengah kemacetan. Jadi pendengar radio pada banyak kota besar sudah meniru perilaku pendengar radio di Jakarta sebagai kota metropolitan.

Selamat Hari Radio dan HUT ke-76 RRI, “Sekali di udara tetap di udara.” ∎

Editor : MA

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button