JAJANKOLOM

Memahami Peta Geografis Pengelolaan Mineral Strategis Dunia

Oleh: Arcandra Tahar

Sahabat yang semoga selalu sehat dan terus menginspirasi Indonesia.

Umat manusia akan semakin memerlukan energi bersih agar bumi ini bisa lebih sehat untuk ditinggali. Kesadaran ini muncul karena data menunjukkan bahwa bumi telah mengalami perubahan sifat alam seperti global warming, yang ditengarai disebabkan oleh emisi gas buang seperti karbondioksida (CO2) dan gas methane (CH4) yang berlebihan.

Kata berlebihan perlu ditekankan disini karena sejatinya alam ini sangat membutuhkan CO2 dan CH4. Bayangkan kalau tidak ada CO2 yang dihasilkan dari kegiatan manusia, maka kita tidak bisa lagi makan buah-buahan yang dihasilkan lewat proses photosynthesis. Kita mungkin tidak bisa lagi makan daging sapi karena sapi banyak yang mati akibat larangan mengeluarkan gas methane dari kotoran yang dihasilkan.

Di era penggunaan energi fosil, batu bara serta minyak dan gas alam menjadi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan energi kita. Bagaimana dengan era energi bersih? Sumber energi utama akan didominasi oleh angin, matahari, air dan panas bumi yang dijadikan energi listrik dan disimpan dalam baterai.

Namun demikian, sumber energi bersih ini, terutama angin dan matahari, tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan bahan tambang atau mineral yang dibutuhkan untuk wind turbin (PLTB), solar PV (PLTS), jaringan listrik dan kendaraan listrk (EV). Mineral strategis yang jadi rebutan dunia saat ini adalah tembaga (copper), nickel, cobalt, lithium, manganese, graphite dan rare earth elements (REE).

Kenapa mineral ini menjadi kunci dalam mempercepat pengembangan energi bersih? Coba perhatikan dua contoh berikut. Pertama untuk mobiliti, kendaraan listrik membutuhkan enam kali lebih banyak mineral strategis dibandingkan dengan kendaraan BBM (bahan bakar minyak). Kedua untuk pembangkit, offshore wind turbine (PLTB) membutuhkan 13 kali lebih banyak mineral strategis dibandingkan dengan PLTG (pembangkit Listrik Tenaga Gas).

Buat apa saja mineral strategis ini dalam mempercepat pengembangan energi bersih? Untuk energy storage, baterai dengan mineral nickel, manganese dan cobalt sebagai katoda dan lithium yang dibantu oleh graphite menjadi andalan untuk baterai yang lebih efisien. Rare earth elements sangat dibutuhkan untuk membuat magnet permanen yang digunakan oleh motor listrik dan wind turbine.

Lihat Juga  Sentralisasi UU Cipta Kerja Kendala Penanganan “Illegal Drilling”

Bagaimana dengan tembaga? Mineral ini sangat dibutuhkan untuk membangun jaringan listrik yang handal karena sifat conductivity-nya yang sangat baik dibandingkan mineral yang lain.

Untuk tambang rare earth elements, 68% berada di China dan sisanya 11% di Amerika Serikat dan 9% di Australia. Yang mengejutkan, 90% pengolahannya ada di China dan 9% ada di Malaysia. Dapat dibayangkan bagaimana ketergantungan Amerika Serikat dan negara lain terhadap China serta Malaysia akan hasil pengolahan rare earth element ini. Patut diduga, Tesla berinvestasi di Malaysia salah satunya untuk mendapatkan hasil pengolahan rare earth element ini yang digunakan untuk motor listriknya.

Untuk tambang graphite, 70% ada di China, 12% di Mozambique dan 9% di Madagascar. Percaya atau tidak, semua produksi graphite dunia ini diolah di China. Jadi China menguasai hulu dan hilir dari graphite sebagai mineral strategis untuk baterai yang berbasis lithium.

Untuk tambang lithium, 47% ada di Australia, 26% ada di Chile dan 17% di China. Namun demikian, untuk pengolahannya, 65% ada di China, 29% di Chile dan 5% di Argentina. Walaupun China bukan producer lithium terbesar didunia tapi sebagian besar lithium diolah di sana.
Material strategis cobalt, 74% ditambang di Democratic Republic of Congo (DRC), 5% di Indonesia dan 3% di Australia. Tapi untuk pengolahannya, 74% di China, 10% di Finland dan 4% di Canada. Boleh dikatakan China tidak punya cadangan cobalt tapi sebagian besar cobalt dunia diolah di China.

Selanjutnya kita bahas tembaga (copper). Producer tembaga terbesar didunia adalah Chile yang menguasai 24% produksi dunia. Kemudian berturut-turut Peru sebesar 11% dan DRC sebesar 10%. Sama seperti material strategis lainnya, pengolahan tembaga terbesar didunia berada di China yang menguasai 42% produksi, diikuti oleh Chile 9% dan Jepang 6%.

Lihat Juga  Nelayan Muba Beralih dari BBM ke BBG

Bagaimana dengan nikel? Seperti yang kita tahu, Indonesia memproduksi 49% nikel dunia kemudian diikuti oleh Phillipines 10% dan Rusia 6%. Untuk pengolahan, 43% berada di Indonesia, 17% di China dan 5% di Rusia. Melihat data ini, hanya nikel yang tempat pengolahan terbesarnya bukan di China tapi di Indonesia. Menarik bukan?

Penguasaan mineral strategis ini menjadi sesuatu yang bisa mengubah peta geopolitik dunia dan mungkin dijadikan alat penekan. Dalam penguasaan ini, kita bisa membagi dalam dua aspek. Aspek pertama dari sisi penguasaan lokasi dimana tambang itu berproduksi, dan aspek kedua dari sisi dimana hasil tambang itu diolah atau dimana smelternya berada. Kedua jenis penguasaan ini akan menentukan kepada siapa dan kemana material strategis bisa dijual. Dengan kata lain, bisa jadi tambang berada di negara A tapi smelternya berada di negara B.

Dengan kondisi seperti diatas, maka bagi negara-negara yang tidak punya mineral strategis akan berusaha untuk menguasai smelternya (pengolahannya). Paling tidak mereka masih punya penguasaan dari sisi produk hilirasasinya dan berharap mampu mengontrol harga dan ketersediaannya. Disaat itulah nanti material strategis bisa menjadi alat untuk menaikan posisi tawar secara geopolitik.

Menyimak data-data yang ditampilkan diatas, China telah banyak berinvestasi untuk membangun pabrik pengolahaan di negaranya dan telah atau sedang menuju dalam penguasaan material strategis dunia. Bagaimana strategi negara lain untuk mengimbangi kedigdayaan China? Dan bagaimana China mempertahankan posisi ini? Silahkan simak dalam tulisan selanjutnya, Insyaa Allah.

Diskusi ini dapat diikuti pada Instagram Arcandra Tahar

https://www.instagram.com/p/Cy9dQEFyZ7P/?igshid=MzRlODBiNWFlZA==

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button