Syariah

Hagia Sophia 567 Tahun Kemudian

Oleh : Maspril Aries
Wartawan Utama/ Penggiat Kaki Bukit Literasi

“Adapun Hagia Sophia, pikiran manusia tidak akan dapat menceritakan atau mendeskripsikan keindahannya.” (Stepen Novgorod, penjelajah Rusia abad ke-14).

Istanbul – Dua kali menjejakkan kaki di Istanbul, dua kali pula berkesempatan berkunjung ke Hagia Sophia atau dalam bahasa Turki disebut Ayasofia. Setiap kali tiba di Istanbul dan memasuki Ayasofia, kisah heroik perjuangan Sultan Muhammad Al-Fatih bersama pasukannya terlintas dalam ingatan.

Ada banyak kisah ditulis tentang Muhammad al-Fatih atau Sultan Mehmed II, Sultan ke-7 dari Dinasti Usmaniah. Dalam film berjudul “Battle of Empires Fetih 1453” bercerita tentang penaklukan Konstantinopel – pusat Kerajaan Romawi Timur atau Bizantium. Tanggal 27 Mei 1453 atau 567 tahun lalu Konstantinopel jatuh ke tangan kekuasaan Islam.

FOTO : Maspril Aries

Dalam film digambarkan adegan Muhammad Al-Fatih yang diperankan Devrim Evin tanpa pasukan mendatangi Hagia Sophia tempat berkumpul warga Konstantinopel yang tengah ketakutan. Sultan lalu berkata, “Jangan takut mulai saat ini hidup kalian, harta kalian adalah bagian dari kami juga, dan kalian bebas hidup sesuai dengan keyakinan kalian.” Warga dan pendeta di dalam Hagia Sophia yang tadi ketakutan berubah ceria, mereka tersenyum bahagia dan haru.

Adegan lainnya, Sultan Muhammad Al-Fatih memeluk seorang anak yang menangis ketakutan, lalu anak itu mencium pipi Sultan Mehmed II. Hari itu Al-Fatih mengubah fungsi Hagia Sophia menjadi masjid. Tiga hari kemudian tempat itu menjadi masjid tempat umat Islam melaksanakan shalat Jumat pertama di Hagia Sophia.

Ali Himmat Barki sejarawan Turki menggambarkan sikap Muhammad Al-Fatih tersebut dengan mengatakan, “Bertapa agungnya ia, betapa adil dan kasihnya ia, ia memiliki kelembutan dan kesantunan.”

567 Tahun kemudian, sebuah putusan pengadilan Turki pada Jumat 10 Juli 2020 membatalkan dekrit Kabinet 1934 yang mengubah Hagia Sophia menjadi museum. Saat Turki berubah menjadi negara Republik, Mustafa Kemal Ataturk presiden pertama Turki tahun 1934 mengubah fungsi Hagia Sophia menjadi museum. Tak ada lagi shalat Jumat di situ.

Setelah terbitnya putusan pengadilan terhadap Hagia Sophia, Presiden Tayyip Erdogan menyatakan Hagia Sophia terbuka untuk ibadah umat Muslim sebagai masjid. Pada 24 Juli 2020 di Hagia Sophia akan berlangsung kembali shalat Jumat seperti yang pertama kali dilakukan Sultan Muhammad Al-Fatih bersama para pasukan muslim.

Putusan pengadilan dan dekrit yang menjadi dasar hukum perubahan status Hagia Sophia di Istanbul dari museum menjadi masjid. Namun keputusan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendapat reaksi beragam, dari yang mendukung sampai yang memprotes keputusan memfungsikan kembali Hagia Sophia menjadi masjid untuk peribadatan umat Islam. Protes dan kutukan datang dari negara Barat. Salah satunya dari Pemerintah Yunani.

Lihat Juga  Dibulan Ramadhan, Penyanyi kondang Rossa Targetkan Baca Al-Qur’an "One Day One Juz"

Merespon berbagai kecaman tersebut Presiden Recep Tayyip Erdogan tetap pada keputusannya. Ia menyebut saat ini tidak ada satupun masjid yang tersisa di Athena. Ini terjadi karena semua bangunan rumah ibadah umat Islam itu telah dihancurkan.

Republika Online menulis, “Tidak ada satu pun masjid kami yang masih berdiri di Athena. Mereka semua diratakan dengan tanah. Tetapi kami tidak menggunakan cara seperti itu di kota seperti Istanbul,” kata Recep Tayyip Erdogan, merujuk pada peringatan ke-567 penaklukan kota yang ditandai pada 29 Mei, dikutip di Yeni Safak, Senin (1/6).

Presiden Erdogan menyebutkan, ketika Sultan Mehmet Han, yang juga dikenal sebagai Mehmet Sang Penakluk, menaklukkan Istanbul, ia tidak disambut sebagai musuh tetapi seperti seorang penyelamat yang diharapkan. “Nenek moyang kita menganggap penaklukan bukan hanya mengambil lebih banyak tanah melainkan juga memenangkan hati,” katanya.

Menurut Presiden Erdogan, leluhur mereka mengurus semua yang dianggap baik, bermanfaat dan menguntungkan bagi umat manusia, tidak hanya saat penaklukan Istanbul tetapi juga selama penaklukan di tempat lainnya.

Hagia Sophia, dibuka untuk melayani umat Islam sebagai hak penaklukan mereka. Dia ingin menjadikan bangunan itu lebih indah daripada membuat bangunan indah ini rata dengan tanah karena permusuhan agama.

Seorang wartawan senior Muhammad Subarkah dari Republika menulis, “Melihat kenyataan itu maka perlu bertanya ada apa ini? Apakah ini soal agama atau sudah soal politik yang di dalamnya diam-diam terus mengidap Islamophobia di kalangan negara Barat?”

Menurut Subarkah, semua tahu langkah Erdogan bisa disebut pula ada motif politik. Tapi negara Barat pura-pura lupa dengan menutup mata telinga saat Mustafa Kemal Ataturk menutup Hagia Sophia sebagai masjid dan menggantikannya sebagai museum. Mereka kala itu diam saja, tak berisik ribut.

Setelah runtuhnya Dinasti Usmaniah atau Ottoman, Islam di Turki mulai mengalami kemunduran. Di atas puing-puing reruntuhan Dinasti Usmaniah seorang tokoh militer Mustafa Kemal Pasha mendirikan negara Republik Turki. Mustafa Kemal Pasha yang mendapat julukan “Ataturk” yang berarti Bapak Republik Turki mengusung ideologi yang disebut “Kemalisme” dengan prinsip sekularisme, modernisme dan nasionalisme.

Sepertinya, jatuhnya kota Konstantinopel pada tahun 1453 ke tangan pasukan Islam, kemudian berganti nama menjadi Istanbul masih menyisakan luka bagi negara-negara Barat. Mereka menutup mata atas kebesaran Dinasti Usmaniah. Setelah itu berabad-abad lamanya Islam menguasai kota tersebut sehingga syariat Islam begitu melekat pada masyarakatnya.

Penaklukan Konstantinopel

567 Tahun lalu atau tahun 1453 menjadi tahun yang akan selalu diingat oleh sejarawan dunia, khususnya sejarawan Turki dan umat Islam. Pada tahun itu, terjadi peristiwa yang menggemparkan pada masanya, yaitu jatuhnya kota Konstantinopel ibukota kekaisaran Romawi yang diperintah oleh Konstatinus Agung (Konstatinus I).

Lihat Juga  Gli Telah Pergi Selamanya

Konstantinopel adalah kota yang dibangun di atas kota yang sudah ada sebelumnya, yaitu Bizantium yang didirikan pada permulaan masa ekspansi kolonial Yunani. Konstantinus memperluas kota yang resmi berdiri pada 11 Mei 330 menjadi 14 kawasan dan membangun berbagai fasilitas-fasilitas umum. Sejak saat itu Konstantinopel merupakan kota terbesar dan termakmur di Eropa.

Pasca terpecahnya Kekaisaran Romawi pada tahun 395, Konstantinopel menjadi ibukota Romawi Timur. Sebagai ibukota kekaisaran, Konstantinopel tumbuh dan berkembang pesat sebagai pusat budaya, ekonomi, agama dan pemerintahan.

Penaklukan Konstantinopel menjadi peristiwa paling monumental dalam sejarah dunia. Peristiwa ini menjadi pertanda berakhirnya abad pertengahan dan sebagai awal dari abad Modern.

Bagi umat Islam keberhasilan Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel dianggap sebagai peristiwa amat besar dan fenomenal karena sejak berabad-abad lamanya, mulai masa khalifah empat, Bani Umayyah hingga Bani Abbasiyah usaha menaklukan Konstantinopel selalu menemui kegagalan.

Para pemimpin muslim saat itu percaya akan sabda Nabi Muhammad SAW yang mengatakan “Konstantinopel akan ditaklukkan oleh pasukan Islam. Rajanya adalah sebaik-baik raja dan pasukannya adalah sebaik-baik pasukan.”

Buya Hamka dalam buku “Sejarah Umat Islam III” menuliskan bahwa ada tiga hal yang melatarbelakangi penaklukan Konstantinopel. 1. Dorongan iman kepada Allah SWT maupun dorongan iman kepada Rasul-Nya; 2. Belum puas dan sempurna jika penyebaran Islam dan kekuasaannya belum mencapai kota Konstantinopel; 3. Kota Konstantinopel letaknya yang sangat strategis yang menghubungkan benua Asia dengan benua Eropa.

Kini kembalinya Hagia Sophia menjadi masjid tidak terlepas dari perjuangan Sultan Muhammad Al-Fatih dan pasukannya. Ustaz Felix Siauw di laman media sosialnya menulis, saat Fatih Sultan Mehmed (Al-Fatih) membebaskan Konstantinopel, ini adalah tempat pertama yang ia kunjungi.

Sejarah mencatat, ia memandang Hagia Sophia yang megah, turun dari kudanya, melepas helm perangnya, lalu bersujud ke arah kiblat, mengambil segenggam tanah Konstantinopel lalu menaburkan keatas kepalanya. Simbol kerendahan hati, bahwa dia hanya tanah

Hari itu, Selasa 29 Mei 1453, pagi hari saat matahari terbit, Konstantinopel dibuka, perintah pertama Al-Fatih adalah fungsikan Hagia Sophia menjadi tempat shalat.

“Akankah Erdogan berhasil menjaga wasiat Fatih Sultan Mehmed dengan menjadikan Ayasofya menjadi masjid? Kita doakan, sampai kita bisa sujud di depan mimbarnya!” tulis Ustaz Felix Siauw. ∎

Editor : MA

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button