LifeStyle

Tak Berjumpa Gli di Hagia Sophia

Oleh : Maspril Aries
Wartawan Utama/ Penggiat Kaki Bukit Literasi

Diantara banyak pengunjung yang masuk ke dalam Hagia Sophia, saya mencari Gli, tapi saya tak berjumpa Gli.

Selesai sarapan pagi saya langsung pergi meninggalkan Hotel Radisson Blu Residence di kawasan Batesehir menuju ke sebuah kawasan di Istanbul yang ditetapkan Unesco sebagai situs warisan dunia. Hari masih pagi, udara masih terasa dingin saat saya tiba di Hagia Sophia. Kursi-kursi taman masih basah oleh sisa embun yang menanti jilatan sinar matahari menghapusnya.

Hari boleh masih pagi jam belum menunjukkan pukul 09.00 waktu Turki, namun antrian pengunjung untuk masuk ke Hagia Sophia sudah ramai, antrian memang belum terlalu panjang, tak sampai 10 meter dari pintu masuk ke barisan belakang antrian.

Gli penjaga Hagia Sophia – Foto: Instagram/Hagiasophiacat

Selain Hagia Sophia di Kawasan situs warisan dunia Istanbul juga ada museum Istana Topkapı, Masjid Sultan Ahmet atau Masjid Biru, Hagia Irene, Masjid Zeyrek, Masjid Sulaimaniah, Sarayburnu dan Tembok Konstantinopel. Hari itu saya datang ke Hagia Sophia untuk bertemu Gli, untuk menyapanya, membelainya dan foto selfie bersama.

Diantara banyak pengunjung yang masuk ke dalam Hagia Sophia, saya mencari Gli, tapi saya tak berjumpa Gli. Ada rasa kecewa dan kesal yang bercampur aduk di tengah keramaian pengunjung museum Hagia Sophia yang sejak 10 Juli 2020 diputuskan pengadilan setempat untuk membatalkan status museum yang ditetapkan melalui Dekrit Kabinet pada masa kepemimpinan presiden pertama Turki Mustafa Kamal Pasha atau Mustafa Kamal Atarturk.

Kucing Liar di Taman Hagia Sophia – Foto : Maspril Aries

Tak jumpa Gli saya pun melangkah keluar Hagia Sophia berjalan menuju museum Istana Topkapi. Di bangku tak taman tak jauh dari Hagia Sophia saya berjumpa sahabat (mungkin) Gli yang sedang duduk bermanja di bangku taman. Duduk tenang memperhatian orang yang lalu lalang di depannya, dia tak merasa terganggu oleh mereka yang datang dan pergi.

Lantas dimana Gli berada? Tetap tak saya jumpa Gli.

Kucing di Volendam, Belanda – Foto : Maspril Aries

Gli adalah seekor kucing berjenis kelamin betina yang bisa dijumpai di dalam Hagia Sophia. Ada yang menyebut dan menulis Gli adalah adalah penjaga Hagia Sophia. Menurut cerita, sudah sekitar 16 tahun Gli tidak pernah meninggalkan bangunan yang pertama kali dibangun tahun ‎532 tersebut. Namanya “Gli” yang artinya persatuan cinta adalah seekor kucing jenis Europian shorthair dengan mata yang bulat dan bercahaya.

Kucing di Santorini, Yunani – Foto : Dok. Maspril Aries

Keberadaan Gli di Hagia Sophia dalam bahasa Turki disebut Ayasofya tak pernah mengganggu mereka yang datang dari mana pun. Gli tak ada pemiliknya, Gli adalah hewan kesayangan semua mereka yang berkunjung ke hagia Sophia yang pada 24 Juli 2020 akan menjadi masjid untuk melaksanakan shalat Jumat pertama setelah selama sekitar 85 tahun menjadi museum tanpa ada shalat Jumat di sana.

Gli tidak hanya terkenal di Turki, namanya dan wajahnya sudah dikenal di mancanegara. Foto-foto Gli banyak bertebaran di media sosial (medsos), bahkan media cetak, online dan televisi membuatkan berita khusus tentang Gli.

Gli mulai dikenal luas dan populer saat Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada 2009 datang ke Hagia Sophia. Presiden Obama dan Perdana Menteri Reccep Tayyip Erdogan sempat menyapa dan membelai Gli.

Kelak Hagia Sophia akan berfungsi sebagai masjid, masihkah Gli akan tinggal di Hagia Sophia yang selama ini sudah menjadi rumahnya? Media pemerintah Turki, TRT World memberikan jawabannya, perubahan status Ayasofya atau Hagia Sophia dari museum menjadi masjid tidak membuat Gli harus dipindahkan. Gli tetap bisa bebas berjalan-jalan di dalam dan di sekitar Hagia Sophia.

Lihat Juga  Berkat Gapura Cinta Negeri, Warga Bukit Kecil Bawa Pulang Tropi dan Uang Rp50 Juta dari Presiden

Jika ingin tahu bagaimana Gli menyapa para tamunya di Hagia Sophia? Bisa dilihat pada akun Instagram, @hagiasophiacat. Seorang pemandu wisata Hagia Shopia, Umut Bahceci telah membuat akun medsos untuk Gli. Sampai sepekan menjelang pelaksanaan shalat Jumat 24 Juli 2020, pada pada akun Instagram, @hagiasophiacat sudah ada 632 unggahan foto dan video tentang Gli dan jumlah pengikutnya mencapai 40,8 ribu dari mancanegara.

Di Hagia Sophia, selain Gli ada juga saudaranya kucing betina bernama Kizim. Kizim kalah populer dibanding Gli karena Kizim jarang terlihat berjalan atau mendekati para pengunjung Ayasofya. Kizim lebih sering bersembunyi.

Kucing Penguasa Istanbul

Selain di Hagia Sophia, jika berkunjung ke Istanbul jangan kaget saat berjumpa dengan banyak “saudara” Gli. Ada ratusan kucing bisa dijumpai di tempat-tempat keramaian, kucing-kucing bisa berjalan dengan bebas tanpa ada yang mengganggu dan mengusirnya. Ada yang bebas masuk ke dalam restoran tanpa diusir oleh pelayan atau pemilik restoran. Kucing-kucing tersebut adalah liar dilepas bebas, namun yang menarik kucing-kucing tersebut terlihat bersih dan gemuk.

Kucing di Santorini, Yunani – Foto : Maspril Aries

Di beberapa tempat, di sudut atau di tepi jalan akan dijumpai kotak-kotak dengan pintu-pintu kecil, itu adalah rumah tempat tinggal kucing-kucing liar tersebut yang sengaja dibuat oleh warga Istanbul.

Di Istanbul sepertinya kucing bukan hewan piaraan di dalam rumah melainkan dibiarkan bebas berkeliaran di luar rumah. Walau berada di luar rumah, warga Istanbul selalu berbagi makanan dengan kucing-kucing tersebut. Makanya tak ada kucing di Istanbul yang kurus kelaparan dan kotor.

Dalam memoar Baron Wencelas Wratislow, bangsawan muda Bohemia, yang terbit tahun 1599 menuliskan tentang warga Istanbul memiliki tradisi menyediakan makanan untuk kucing jalanan. Mereka memanggil kucing-kucing liar tersebut dengan “kedi et” atau “daging untuk kucing.” Kucing-kucing pun akan berkumpul menyantap makanan yang disajikan tersebut.

Kucing di Athena, Yunani – Foto : Maspril Aries

Istanbul adalah kota surga bagi pencinta kucing. Jika anda penyayang hewan kucing maka datanglah ke Istanbul. Di Istanbul warganya, juga para pemilik toko bisa hafal nama-nama kucing yang berkeliaran di lingkungan mereka. Mereka juga mempersiapkan tempat tinggal para kucing dengan membeli kandang-kandang atau atap-atap untuk diletakkan di pinggir jalan untuk kucing-kucing liar tersebut berteduh.

Saat virus corona datang, banyak yang khawatir akan nasib ribuan ekor kucing tersebut karena pemerintah melakukan pembatasan terhadap gerak warganya. Warga Istanbul diminta tetap berada di dalam rumah, restoran dan perkantoran pun tutup. Kekhawatiran tersebut langsung dijawab pemerintah setempat.

Kementerian Dalam Negeri Turki memerintahkan pemerintah daerah dan dewan kota setempat untuk menyediakan makanan dan air untuk kucing-kucing liar tersebut di tempat penampungan hewan dan taman-taman. Anjing liar pun mendapat perhatian untuk diberi makan. Menurut dinas pemeliharaan hewan setempat, diperkirakan ada sekitar 12.500 ekor kucing hidup liar dan bebas di Istanbul.

Bagaimana ceritanya, kucing demikian banyak di Istanbul dan bisa hidup bebas dan nyaman tanpa diganggu dan diusir? Satu cerita menjelaskan, ada bukti sejarah yang memperlihatkan bahwa sebelum Konstantinopel jatuh ke tangan Dinasti Usmaniah yang dipimpin Sultan Muhammad Al-Fatih tahun 1453, kota itu sempat diserang wabah pes, untuk membasminya penguasa melakukan dengan mengerahkan kucing membasmi tikus.

Kucing di Santorini, Yunani – Foto : Maspril Aries

Cerita lain berkisah, dikutip dari The Culture Trip, kawanan kucing pertama kali datang ke Turki saat zaman Kekaisaran Ottoman. Saat itu setiap kapal-kapal yang berlabuh di Istanbul selalui datang dengan membawa kucing dalam jumlah banyak untuk mengusir tikus yang sering merusak barang bawaan, terutama yang berisi makanan. Lalu kucing-kucing itu saling membaur dan kemudian berkembangbiak di Turki.

Lihat Juga  Thia Yufada Inisiasi Pelatihan Menulis Buku oleh Anak

Cerita lainnya, seorang kartunis terkenal Turki, Bulent Ustun menjelaskan bagaimana kawasan Cihangir, Istanbul, menjadi rumah bagi berbagai ras kucing ketika kapal-kapal pada masa Ottoman berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Istanbul, kapal-kapal itu datang dari seluruh dunia dengan membawa berbagai jenis kucing. Kisah tersebut bisa ditonton dalam film dokumenter kucing Istanbul “Kedi.”

Sejarawan Ottoman, Ekrem Bugra Ekinci mencatat, Sultan Abdul Hamid II dikenal sebagai pecinta kucing. Sultan memiliki kucing peliharaan jenis Angora berwarna putih berbulu panjang yang bernama “Agha Effendi. Kemudian Sultan juga menerima hadiah sejumlah besar kucing, diantaranya tahun 1885, Gubernur Van mengirimkan 35 kucing Van (kucing putih berbulu panjang dengan mata berbeda warna yang berasal dari Danau Van).

Kawasan Anatolia pada masa itu merupakan rumah bagi kucing keturunan Angora dan Van, dua kucing ras khusus yang berasal dari Turki. Kucing memang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga Turki khususnya warga Istanbul. Bahkan warga mengatakan, “Jika tidak ada kucing, Istanbul kehilangan jiwanya.”

Warga Istanbul sangat mencintai kucing, seperti kisah kucing Tombili yang menjadi maskot bagi penduduk di distrik Ziverbey, Istanbul. Ketika Tombili meninggal, warga mengumpulkan sumbangan lalu membayar seorang seniman untuk mengabadikan kucing betina yang kharismatik itu. Kini sebuah patung perunggu ada di pinggir jalan, meniru pose khas Tombili.

Rasulullah SAW Sayang Kucing

Jauh sebelum masa kekuasaan Ottoman atau Dinasti Usmaniah di Turki, Nabi Muhammad SAW sudah memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza. Mueeza adalah kucing kesayangan Rasulullah SAW. Dikisahkan, suatu saat kala Rasullah SAW hendak mengambil jubahnya, ternyata Mueeza sedang terlelap tidur di atas jubahnya. Karena tak ingin mengganggu hewan kesayangannya, Nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya.

Rasulullah SAW saat menerima tamu di rumahnya, selalu menggendong Mueeza dan ditaruh di pahanya. Nabi menyukai satu sifat Mueeza yang selalu mengeong ketika mendengar azan.

Kepada para sahabat Nabi Muhammad SAW berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyayangi keluarga sendiri. Nabi juga mengingatkan, pada beberapa hadis bahwa kucing itu tidak najis. Bahkan diperbolehkan untuk berwudhu menggunakan air bekas minum kucing karena dianggap suci.

Rasulullah SAW juga berpesan jangan menyakiti kucing. Bagi yang menyakitinya ada hukuman yang akan diterima. Dalam sebuah hadis shahih Al Bukhari, dikisahkan tentang seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya, dan tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan sendiri. Nabi Muhammad SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini adalah siksa neraka.

Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seorang wanita dimasukkan ke dalam neraka karena seekor kucing yang dia ikat dan tidak diberikan makan bahkan tidak diperkenankan makan binatang-binatang kecil yang ada di lantai,” (HR. Bukhari).

Karena tak sempat berjumpa Gli, saya berharap suatu kesempatan kelak bisa kembali berkunjung ke Istanbul dan shalat di Hagia Sophia yang telah menjadi Masjid Ayasofya dan semoga bisa bertemu Gli.

Editor : MA

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button