Uncategorized

Sumsel Harus Lakukan 3 Hal Ini untuk Jadi Lumbung Pangan Nasional

EkbisNews.com, Palembang- Untuk dapat menjadi provinsi nomor satu dalam memproduksi pangan di indonesia, provinsi sumatera selatan harus melakukan tiga hal. Hal ini diungkapkan Kepala Bidang (Kabid) Produksi BPS Provinsi Sumsel, Joni saat diwawancarai di ruang kerjanya, Senin (23/9/2019).

Joni mengatakan, provinsi sumsel saat ini sudah menjadi nomor satu di sumatera untuk lumbung pangan. “Kalau untuk di sumatera, provinsi sumsel sudah menjadi nomor satu lumbung pangan. Namun kalau untuk se indonesia, provinsi sumsel berada di peringkat kelima atau kalah dari provinsi Jatim, jateng, jabar dan sulsel,” katanya.

Untuk dapat mengalahkan keempat provinsi tersebut dan menjadi provinsi nomor satu lumbung pangan, ada tiga hal yang harus dilakukan provinsi sumsel. “Ya, ada beberapa hal yang harus atau wajib dilakukan provinsi sumsel yaitu penambahan luas lahan sawah, tekhnik budidayanya dan juga SDM nya,” ujar Joni.

Joni menjelaskan, untuk perluasan lahan sawah ini, provinsi sumsel tidak bisa hanya melakukannya dengan program serasi. Karena program serasi yang dilakukan provinsi sumsel ini tidak untuk penambahan luas lahannsawah baru melainkan mengoptimalkan masa produktifnya (hasil panen saja). “Program SERASI dari Kementerian Pertanian yang diterapkan di provinsi Sumsel ini tadinya saya pikir itu merupakan penambahan areal baru sawah, tetapi setelah saya cek dan meminta informasi dari kabupaten/kota sebenarnya program tersebut lebih kearah optimalisasi lahan sawah.

Lihat Juga  PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang Optimalkan Penjualan Pupuk Komersial

Artinya, karena itu tidak menambah luas baku luas lahan sawah, itu sudah terhitung di luas baku sebelumnya. Untuk perluasan lahan di provinsi Sumsel ini perlu proses yang cukup panjang karena di Sumsel itu kebanyakan lahan rawa dimana biaya produksinya relatif cukup tinggi,” jelasnya

Lebih lanjut diungkapkannya, Kemudian, teknik budidaya (padi) jatim sudah lebih maju dibanding Provinsi Sumsel. Sumsel untuk menanam saja masih pakai sistem tebar dan tidak ada jarak tanam. Kalau di Jawa kan padi disemai dulu, lalu menggunakan jarak tanam.

Kalau ditabur, pemeliharaannya agak susah karena terlalu rapat, sulit membersihkan gulma (tanaman selain padi) yang tumbuh di sekitar tanaman padi. Kalau di Jawa karena ada jarak jadi mudah dibersihkan, sehingga produksinya juga lebih bagus, pemupukan lebih intensif.

Lihat Juga  BTPN Dikuasai Jepang, Tahun Ini Tak Bayar Deviden

“Nah yang ketiga yaitu SDM di provinsi Sumsel masih kurang. Sumsel menggunakan sistem tebar karena tenaga kerjanya (petani) kurang. Untuk menanam padi satu-persatu itu butuh banyak orang. Tapi toh masih produksi, hanya saja masih kurang maksimal. Jadi, kalau provinsi Sumsel ditargetkan menjadi nomor satu lumbung pangan pada 2020 itu masih agak berat, namun tidak menutup kemungkinan beberapa tahun lagi akan terwujud kalau sumsel menerapkan tiga hal tadi,” ungkap Joni sebagaimana dikutip dari sibernas.com

Joni menambahkan, dalam menentukan produksi pangan sejak 2018 BPS menerapkan metode baru yaitu Kerangka Sampel Area (KSA) dengan menggunakan geo-spasial. Jadi, setiap bulan petugas mendatangi lokasi sesuai koordinat yang sudah ditentukan untuk mengamati fase tumbuh padi. Di Sumsel ada 1.289 titik (koordinat) untuk diamati fase tumbuh padinya.

“Kalau metode lama, kami mendapat laporan dari Dinas Pertanian kabupaten/kota, dan luas panen yang mereka laporkan itu hanya perkiraan. Karena perkiraan dan tidak diukur langsung, jadinya kurang akurat. Dari hasil pengamatan dengan metode baru ini, memang Sumsel surplus (hasil panen),” katanya.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button