LifeStyle

Sriwijaya Ikon Sumsel, Tapi Tidak Punya Pusat Studi Sriwijaya

EkbisNews.com, Palembang — Opini budayawan Ridwan Saidi yang menyatakan “Kerajaan Sriwijaya Fiktif” tak urung memicu berbagai protes dan bantahan dari akademisi, arkeolog, sejarawan, budayawan sampai politisi.

Namun ada sikap berbeda dilakukan agenda diskusi publik “Ngobrol Bareng Bung Fk” yang berlangsung di Roca Cafe, Kamis (5/9). Diskusi publik yang mengusung tema “Sumsel Perspektif Politik Sriwijaya” yang menghadirkan nara sumber Yenrizal doktor ilmu komunikasi dari Fisip UIN Raden Fatah, Maspril Aries penggiat Kaki Bukit Literasi, Taufik Wijaya jurnalis lingkungan dan RA Anita Noeringhati anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Dari diskusi tersebut lahir kesimpulan, untuk mengantisipasi lahirnya kontroversial terhadap Kerajaan Sriwijaya, ke depan Sumsel butuh Pusat Studi Sriwijaya agar sejarah dan nilai peradaban Sriwijaya bisa ditumbuhkembangkan. “Ironi, Sumsel atau Palembang disebut sebagai pusat Sriwijaya tapi tidak memiliki pusat studi Sriwijaya,” kata Taufik Wijaya.

Lihat Juga  Gunakan Getah Gambir, PKK Menjumput Gambo Muba

Jurnalis M Doedy dari Berita Pagi yang hadir sebagai peserta menjelaskan, pernah ada keinginan membangun pusat studi Sriwijaya di sebuah perguruan tinggi, namun dalam internal mereka terjadi pro dan kontra terhadap pusat studi tersebut.

Menurut Maspril Aries, “Jika perguruan tinggi tersebut tidak mampu merealisasikannya, kita tawarkan kepada UIN Raden Fatah untuk mendirikan Pusat Studi Sriwijaya. Di sini ada Bung Yenrizal dari UIN Raden Fatah untuk mengelaborasinya kepada para koleganya.”

Taufik Wijaya juga menyoroti regenerasi literasi tentang Sriwijaya stagnan bahkan cenderung menurun. “Ini yang harus dijawab bukan soal Sriwijaya fiktif atau tidak,” katanya.

Sementara menurut Maspril Aries, di sekolah kita sudah kehilangan mata pelajaran sejarah. “Mari kembalikan pelajaran sejarah ke sekolah. Di Sumsel bisa dimasukan dalam muatan lokal dengan fokus pada pelajaran atau kajian Kerajaan Sriwijaya,” ujarnya.

Lihat Juga  Keren, Muba Punya Rusunawa dan Perumahan untuk ASN dan MBR

Pelajaran tentang Sriwijaya, bukan hanya dalam kelas, tapi bisa juga bisa diluar kelas seperti mengunjungi museum Taman Purbakala Kerjaan Sriwijaya (TPKS). “Jadi harus didorong seperti itu. Kemudian kehadiran Pusat Studi Sriwijaya harus didorong untuk dikembangkan ke level kebijakan politik dengan peraturan daerah yang dilahirkan DPRD.”

Menanggapi wacana Pusat Studi Sriwijaya, anggota DPRD Sumsel RA Anita Noeringhati menilai, usulan pendirian tersebut bisa jadi masukan serius DPRD bagi anggota DPRD mendatang yang akan diambil sumpahnya pada akhir September mendatang.

“Dari polemik Sriwijaya fiktif ternyata bisa diambil hikmah agar kita berbenah. Sumsel itu ikonnya kan Sriwijaya,” kata anggota DPRD dari Fraksi Partai Golkar.

Editor : Maspril Aries

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button