Syariah

Shalat Zuhur di Zentralmoschee Cologne

Oleh : Maspril Aries
Wartawan Utama/ Penggiat Kaki Bukit Literasi

Usai sarapan di Hotel Leonardo Royal Frankfurt Jerman, jam di tangan menunjukkan jelang pukul 08.00 waktu Jerman, saatnya berkumpul di lobi hotel dan naik ke dalam bus yang akan membawa ke Köln, kota berikutnya yang menjadi tujuan di kawasan Eropa Barat.

Setelah menempuh perjalan darat hampir tiga jam tiba di Köln. Destinasi yang dituju di kota yang dalam bahasa Inggris ditulis “Cologne.” Cologne identik dengan parfum oleh sebab itu disebut juga kota parfum.

Parfum “Eau de Cologne” sangat terkenal karena aroma yang harum namun ringan. Eau de Cologne dibuat pertama kali di kota Cologne (Köln), tepatnya di sebuah rumah yang berada di Obenmarspforten 21 oleh ahli parfum Johann Maria Farina.

Rumahnya tempat menciptakan Eau de Cologne telah diubah menjadi museum parfum yang selalu menarik kunjungan wisatawan. Di rumah yang bernama resmi Fragrance Museum wisatawan bisa melihat proses pembuatan parfum Eau de Cologne hingga ikut meracik parfum sendiri. Untuk masuknya tentu tidak gratis.

Selain Fragrance Museum ada beberapa destinasi wisata lainnya di Köln. Yang terkenal adalah Katedral Köln yang merupakan katedral terbesar di daratan Eropa. Katedral ini terdapat di tepi Sungai Rhine. Katedral Köln adalah gereja gotik yang ditetapkan Unesco sebagai warisan budaya dunia. Katedral Köln memiliki puncak atapnya setinggi 157 meter.

Berjalan di sekitar Katedral Köln ada beberapa museum yang bisa dikunjungi diantaranya Museum Ludwig yang berisi karya kontemporer, seni populer dan karya ekspresionis. Tak jauh dari museum ini ada Museum Römisch-Germanisches Museum.

Masjid Köln atau Zentralmoschee Köln

Usai berjalan kaki di sekitar Katerdral Köln, saatnya tiba dengan menggunakan bus menuju Masjid Köln atau Zentralmoschee Köln (Masjid Pusat Köln) yang kini juga menjadi ikon dari kota Köln.

Tiba di masjid yang berada di Distrik Ehrenfeld Köln saat menjelang waktu shalat Zuhur tiba. Di sekitar area masjid yang berada di jalan utama Verlour Strasse tidak menyediakan pelataran parkir untuk bus.

Setelah didrop dari bus, kaki langsung melangkah ke arah masjid dengan menjejak anak tangga karena masjid terletak di lantai satu. Langsung menuju ke tempat wudhu di sebuah ruangan yang lumayan besar dengan beberapa kran air tersedia untuk berwudhu jemaahnya. Khusus bagi jemaah perempuan tempat wudhu tersedia di lantai dua yang langsung terhubung dengan tampat shalat wanita yang juga berada di lantai dua masjid.

Lihat Juga  Musibah itu Datang karena Ulah Manusia

Masjid Köln adalah masjid terbesar di Jerman. Masjid ini dibangun tahun 2009 dan dianggap simbol integrasi dan simbol lahirnya arsitektur masjid Jerman. Masjid pusat Köln (Zentralmoschee Köln) memiliki luas 4500 meter persegi mampu menampung 1.200 jamaah dibangun oleh organisasi muslim Turki DiTiB. Masjid ini memiliki perpustakaan, tempat kursus, ruang seminar, pusat olah raga, kantor serta pertokoan yang berada di area basement.

Masjid Köln atau Zentralmoschee Köln tersebut diresmikan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada akhir September 2018. Masjid yang dibangun dengan dana sekitar 30 juta Euro atau lebih dari Rp450 miliar dananya berasal dari sumbangan jamaah dan 884 organisasi Islam. Donasi juga datang dari Gereja Katolik St. Theodore yang khusus menggalang dana untuk membangun masjid ini.

Masjid Köln terkenal dengan desain arsitektur masjid pada umumnya yang identik dengan desain oleh arsitek Paul Böhm yang berasal dari keluarga arsitek terkenal di Jerman. Paul dan ayahnya, Gottfired Böhm adalah ahli di bidang arsitekur gereja Katolik.

Desain arsitektur Masjid Köln adalah “terbuka” dan “terang.” Bangunan masjid didesain transparan dengan menggunakan kaca yang menonjolkan pencahayaan natural. Desain masjid juga dianggap “sangat Jerman” karena mampu menciptakan gebrakan di bidang arsitektur rumah ibadah yang mengawinkan arsitektur masjid era Ottoman Turki dengan arsitektur bergaya romawi khas Eropa.

Penggunaan material glass wall memberikan kesan terbuka bagi masjid ini. hal tersebut memang sengaja dibuat demikian sebagai simbol bahwa masjid ini terbuka bagi siapa saja.

Seperti Masjid Sultan Ahmed di Turki, Masjid Köln ini juga menghadirkan nuasana biru yang khas. Nuansa modern terlihat lewat desain kaca-kaca yang menyatu di dinding. Kesan Islam yang modern juga tampak dari tulisan kaligrafi emas di dinding dan atap masjid.

 

Masjid ini kerap dikunjungi warga non muslim. Masjid Köln ingin menjembatani komunikasi antar agama di Jerman. Masjid Köln bermoto “Unsere Moschee für Kölle” atau “Masjid Kita untuk Köln.” Masjid memiliki dua menara yang menjulang di langit Köln dengan tinggi 55 meter – atau 1/3 dari 157 meter ukuran puncak Katedral Köln.

Lihat Juga  Khawatir Corona, Saudi Tutup Sementara Akses Jamaah Umrah

Untuk mendirikan masjid di Köln butuh waktu dan perjuangan panjang bagi warga keturunan Turki yang bermukim di Jerman. 20 Tahun mereka bermimpi mendirikan masjid yang besar dan megah. Rencana tersebut baru mulai terealisasi tahun 2009. Rencana tersebut sejak awal dicetuskan terus mendapat penolakan.

Sebuah surat kabar lokal melakukan jajak pendapat yang menghasilkan 63 persen responden mendukung pembangunan masjid, sebanyak 27 persen ingin ukuran masjid diperkecil.

Kontroversi pembangunan masjid berakhir pada 28 Agustus 2008 setelah hasil pemungutan suara di Dewan Kota Köln memenangkan rencana pembangunan masjid tersebut. Dalam pemungutan suara yang diikuti oleh semua fraksi yang ada di Dewan Kota kecuali partai Demokratik Kristen.

Walau masih ada protes dan penolakan dari beberapa warga, proses pembangunan masjid segera dimulai setelah mendapatkan persetujuan dari Dewan Kota dengan berbagai revisi terhadap rancangan awal masjid.

Rancangan arsitektur bangunan utama masjid sangat berbeda dengan pakem bentuk masjid pada umumnya yang kita kenal. Bentuk bangunan utamanya dibangun menyerupai sebuah bola dunia dengan dinding dari bahan transparan. Karena itu bentuk bangunan Zentralmoschee Cologne sangat berbeda dengan masjid pada umumnya di berbagai belahan dunia.

Di Köln atau Cologne umat Islam diperkirakan mencapai 10 persen dari total populasi kota tersebut. Jumlah penduduk muslim di kota ini merupakan yang terbanyak di seluruh kota di Jerman. Mayoritas warga muslim di Jerman ini merupakan keturunan Turki.

Pada saat shalat Zuhur siang itu jemaah masjid mayoritas warga Jerman keturunan Turki. Usai shalat saya berkesempatan bersilahturahmi dengan imam masjid. Selesai silahturahmi ada hal konyol yang saya lakukan, saya lupa mengambil jaket yang tergantung di tempat gantungan jaket yang tersedia di bagian belakang tempat shalat. Dalam perjalanan menuju hotel rasa dingin harus dinikmati karena suhu saat itu berkisar 5 – 10 derajat celcius.

Shalat Zuhur dengan jaket yang tertinggal di Zentralmoschee Köln adalah pengalaman yang tidak terlupakan. Kalau kembali ke sana, masihkah jaket itu tergantung di tempatnya? Saya merelakan kepada siapa pun yang akan mengenakan jaket tersebut. ∎

Editor : Maspril Aries

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button