Bisnis

Sekjen Aspek: PHK Indosat Sepihak Tak Prosedur

PHK dinilai tanpa melalui proses perundingan dengan Serikat Pekerja Indosat.

EKBISNEWS.COM, JAKARTA — Sekretaris Jenderal Asosiasi Serikat Pekerja (Aspek) Indonesia Sabda Pranawa Djati menuturkan PHK terhadap 677 karyawan operator telekomunikasi Indosat Ooredoo dilakukan massal dan sepihak tanpa melalui proses perundingan dengan Serikat Pekerja Indosat. Serikat Pekerja Indosat yang berafiliasi dengan Aspek Indonesia telah melaporkan PHK tersebut kepadanya untuk meminta bantuan advokasi.

Indosat seperti dilansir Republika.co.id, mengklaim 80 persen karyawan telah setuju untuk menerima kompensasi dari PHK yang dilakukan perusahaan. “Ini sudah jelas mendadak dan tanpa melalui proses perundingan dengan Serikat Pekerja Indosat. Padahal, dalam perjanjian kerja sama antara perusahaan dan serikat pekerja, PHK dan transformasi bisnis harus dirundingkan terlebih dahulu,” kata Sabda saat ditemui di Jakarta, Ahad (16/2).

Sabda menuturkan, kebijakan PHK yang dilakukan Indosat Ooredoo dilakukan secara personal. Hal itu sama saja dengan langkah intimidatif terhadap karyawan. Ia menegaskan, masalah yang terjadi bukan lagi soal pesangon atau kompensasi karena jumlahnya sudah jauh di atas rata-rata upah.

Namun, lebih kepada proses dan tahapan PHK. Sebab, masih banyak pekerja Indosat Ooredoo yang ingin tetap bekerja.

Lihat Juga  Rancangan APBD Musi Banyuasin 2020 Rp3,465 Triliun

“Bahwa disebut 80 persen karyawan setuju itu kan opini manajemen. Disitu ada intimidasi kita tidak tahu, yang jelas mereka sudah melapor ke Serikat Pekerja Indosat dan akan diadvokasi,” kata dia.

Sabda menegaskan, dalam setiap langkah besar perusahaan, serikat pekerja di perusahaan tersebut harus dilibatkan. Sekalipun dalam hal transformasi bisnis. Serikat pekerja mempunyai tanggung jawab moral untuk melindungi para pekerja sekaligus meningkatkan produktivitas bagi perusahaan.

“Masalahnya di sini dan proses advokasi akan berjalan,” ujarnya.

Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (Aspek Indonesia) Sabda Pranawa Djati mengatakan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ratusan karyawan Indosat Jumat (14/2/2020) lalu dilakukan “mendadak dan tidak melalui perundingan dengan serikat pekerja.
” Di Ballroom Mega Proklamasai Hotel, Minggu (16/2/2020), ia mengatakan sebenarnya ada perjanjian dengan manajemen, “kalau setiap PHK itu harus dirundingkan dengan serikat.” Biasanya dalam perundingan itu dibahas banyak hal, termasuk jika rencana manajemen tidak disepakati para buruh. Saat ini menurutnya ada banyak karyawan yang meminta diadvokasi karena masih ingin bekerja.
Semestinya itu bisa dilakukan sejak awal jika misalnya ada pemberitahuan. “Kami enggak berdebat karena Indosat perusahaan multinasional, gaji di atas rata-rata, lalu terkait hak pesangon, enggak ada diskusi di situ. Tapi ini soal proses. Tidak melalui perundingan dan PHK sepihak. 500 orang itu masih ingin kerja,” katanya.
President Director & CEO Indosat Ooredoo Ahmad Al-Neama sepperti dilansir tirto.id, mengatakan per 14 Februari 2020 ada 677 karyawan yang diberhentikan. Ia mengklaim lebih dari 80 persen telah setuju dan menerima paket kompensasi. PHK dilakukan karena Indosat tengah melakukan efisiensi. Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Indosat menderita kerugian sejak 2018. Pada kuartal III 2019, Indosar mencatat kerugian bersih sebesar Rp284, miliar.
Uang yang dihemat akan digunakan untuk keperluan lain, termasuk meningkatkan kualitas layanan untuk pelanggan. “Kami telah mengkaji secara menyeluruh semua opsi, hingga pada kesimpulan bahwa kami harus mengambil tindakan yang sulit ini,” katanya lewat keterangan tertulis.
Editor: Bangun Lubis

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close