LifeStyle

Personal Branding for Pilkada

Oleh : Maspril Aries
Wartawan Utama/ Penggiat Kaki Bukit Literasi

Personal branding adalah salah satu strategi untuk mengemas potensi atau brand kandidat sehingga mampu menciptakan respon emosional pada orang lain (pemilih).

Tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak pasca pandemi virus Corona bergulir kembali. Pemerintah telah menetapkan jadwal tahapan Pilkada serentak akan dimulai kembali pada 15 Juni 2020 dan pemungutan suara akan dilaksanakan serentak pada 9 Desember 2020.

Selama masa tertundanya tahapan Pilkada banyak bakal calon kepala daerah terus melakukan aktivitas untuk mensosialisasikan sosoknya kepada warga atau pemilih. Pandemi Covid-19 telah menjelma menjadi panggung politik bagi figur atau tokoh politik.

Survei yang dilakukan lembaga Indikator Politik Indonesia (IPI) yang melakukan survei terkait penanganan Covid-19 dan implikasinya terhadap beberapa sektor, termasuk politik menyajikan data bahwa Pandemi Covid-19 disebut bisa menjadi panggung mendongkrak popularitas dan elektabilitas para kepala daerah.

Menurut Direktur Eksekutif IPI Burhanuddin Muhtadi, selama dua bulan terakhir, penanggulangan Covid-19 bergeser dari pusat ke daerah telah memberikan kesempatan pada kepala daerah yang pintar memanfaatkan panggung setidaknya menjaga popularitas dan elektabilitasnya.

Survei tersebut menyajikan gambaran popularitas dan elektabilitas di panggung nasional. Bagaimana dengan di panggung daerah khususnya di daerah-daerah yang akan melaksanakan pilkada serentak 2020? Tidak jauh berbeda, banyak bakal calon termasuk calon petahana di daerah yang menjadikan penanggulangan Covid-19 menjadi panggung untuk memperkenalkan diri atau sosialisasi kepada calon pemilih.

Selain pandemi Covid-19 ada banyak panggung politik di daerah yang bisa dimanfaatkan para calon kepala daerah atau siapa saja yang berkeinginan maju pada kompetisi politik setiap lima tahun sekali tersebut.

Sejak pilkada langsung tahun 2005, dalam setiap pilkada peran kandidat atau calon kepala daerah yang bersaing adalah sangat dominan. Di Indonesia para kandidat atau calon kepala daerah yang sebenarnya jauh lebih menentukan dalam proses marketing politik. Bukan ideologi partai politik dan ketidakjelasan positioning ideologi yang berpengaruh terhadap perilaku pemilih.

Personal Branding

Mengutip Silih Agung Wasesa dalam Political Branding & Public Relations, personal branding adalah suatu proses ketika orang menggunakan dirinya atau karirnya sebagai merek (brand). Personal branding adalah bagaimana kita memasarkan diri kita pada orang lain secara sistematis.

Menurut Rampersad Hubert, personal branding merupakan seni untuk menarik dan menjaga persepsi publik secara aktif. Sama halnya dalam pengelolaan bisnis, personal branding dapat dibangun dari orang, nama, tanda, simbol, atau desain yang dapat dijadikan pembeda dengan kompetitor.

Lihat Juga  Field Trip Jurnalis SKK Migas Tinjau Sukses Program CSR PT Medco

Branding adalah aktivitas yang kita lakukan untuk membangun persepsi orang lain terhadap kita mengenai siapa kita. Sebenarnya tanpa disadari bahwa kegiatan kita sehari-hari yang kita lakukan itu sebenarnya kita sedang melakukan branding yang nantinya akan menjadi brand kita dikemudian hari.

Brand atau merek menurut Dewi Haroen dalam Personal Branding: Kunci Kesuksesan Berkiprah di Dunia Politik, dapat diartikan sebagai tanda, simbol, desain yang tujuannya sebagai definisi sehingga memiliki perbedaan antara satu dan yang lainnya. Menurut Peter Montoya, personal branding adalah sebuah seni dalam menarik dan memelihara lebih banyak klien dengan cara membentuk persepsi publik secara aktif.

Personal branding lebih dikenal dalam ilmu ekonomi atau bisnis khususnya pemasaran atau marketing. Dalam ilmu komunikasi khususnya komunikasi politik ada kajian membahas marketing politik. Dalam dunia marketing sebuah produk terkait dengan brand. Branding adalah hal yang sangat mendasar dari kegiatan pemasaran.

Brand dan branding dalam marketing digambarkan sebagai aset tidak berwujud (intangible assets). Brand adalah janji dan harapan, artinya mereka akan membuat otak dan hati konsumen menaruh harapan tinggi atas janji yang terungkap melalui komunikasi merek. Esensi dari merek sendiri adalah janji, sekaligus harapan konsumen atas suatu keinginan tertentu.

American Marketing Association(AMA) mendefinisikan brand atau merek itu adalah sebagai nama, istilah, tanda, simbol atau desain atau kombinasi dari kesemuanya yang bertujuan untuk mengidentifikasikan suatu barang atau jasa dan akhirnya dapat membedakan diri sendiri dengan yang lainnya.

Pernahkah membaca riwayat tentang Joe Girard penerima “The World’s Greatest Salesman” versi Guinness Book of World Records? Joe Girard seseorang yang berhasil menjual 13.001 unit mobil pada tahun 1963 sampai 1978. Joe adalah seorang marketer handal yang mampu mendeskripsikan brand yang dia pasarkan dengan baik dan mengundang banyak perhatian.

Kesusksesan Joe Girard tidak terlepas karena dirinya sangat mengenal brand yang dia jual dari segala aspek. Joe pun dikenal dunia sebagai marketer atau tokoh penjual terbaik di dunia. Itu berarti Joe Girard telah melakukan personal branding tanpa dia sadari.

Personal branding bisa dibangun dengan integritas personal, melalui gaya bicara, penampilan berpakaian, sampai gaya berjalan juga harus menjadi perhatian. Dengan mengetahui seperti apa brand (yang sesuai dengan) diri kita, maka personal branding akan lebih mudah dilakukan.

Personal branding saat ini sudah digunakan banyak tokoh dan dan publik figur dengan beragam profesi yang membuat mereka dikenal oleh khalayak dan diakui keberadaannya. Keberhasilan mereka menjadi personal branding tidak terlepas dari delapan konsep dalam pembentukan personal branding dari Peter Montoya, dan sekaligus menjadi pondasi yang kuat membentuk personal branding.

Lihat Juga  Anita, “Branding” dan Modalitas Politik

Delapan konsep tersebut adalah : Spesialisasi (The Law of Specialization), Kepemimpinan (The Law of Leadership), Kepribadian (The Law of Personality), Perbedaan (The Law of Distinctiviness), Terlihat (The Law of Visibility), Kesatuan (The Law of Unity), Keteguhan (The Law of Persistence), dan Nama Baik (The Law of Goodwill).

Jadi personal branding menjadi salah faktor yang menentukan seberapa baik orang tersebut. Umumnya orang yang brand nya baik, akan lebih mudah diingat oleh orang lain. Cara pembentukan personal branding tidak jauh berbeda dengan pembentukan brand perusahaan. Perbedaannya pada ruang lingkupnya, personal branding diterapkan dalam masing–masing individu.

Pilkada sendiri adalah proses politik yang membutuhkan partisipasi politik pemilih atau konstituen. Menurut David Berber dalam Citizen Politics : An Introduction to Political Behavior, intensitas partisi politik warga atau pemilih akan sangat dipengaruhi oleh resources, knowledge, skill dan money. Selain itu perilaku pemilih menurut pakar politik Affan Gaffar (almarhum), ada empat variabel yang dapat menjelaskan perilaku pemilih, yaitu keyakinan sosiologis, party identification, pola kepemimpinan, klas dan status sosial. Silih Agung Wasesa melengkapi bahwa perilaku pemilih juga bisa dipengaruhi personal branding, positioning dan public relation.

Untuk meraih suara atau dukungan yang besar seorang kandidat membutuhkan strategi kompetitif menumbuhkan kepercayaan (trust) politik kepada kandidat. Personal branding adalah salah satu strategi untuk mengemas potensi atau brand kandidat sehingga mampu menciptakan respon emosional pada orang lain (pemilih).

Pada setiap pilkada banyak calon kepala daerah percaya bahwa untuk memenangkan pilkada butuh biaya ekstra besar untuk membiayai kampaye, tim sukses, atau bahkan untuk tim konsultan politik. Biaya atau ongkos pilkada menjadi masalah jika calon kandidat atau partai politik pendukung tidak memiliki cukup dana untuk membiayai semua kegiatan kampanye.

Maka salah satu cara yang bisa mengatasinya adalah calon kepala daerah atau kandidat adalah figur yang memiliki personal branding yang kuat. Dengan personal branding dan positioning yang baik maka masalah tersebut akan sedikit teratasi. 𝞨𝞨

Editor : MA

[Tulisan ini telah diterbitkan pada Harian Lampung Post Selasa, 23 Juni 2020 dengan judul Personal Branding untuk Pilkada]

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button