KULINER

New York I’am Coming

Oleh : Maspril Aries
Wartawan Utama/ Penggiat Kaki Bukit Literasi

Tak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi patung Liberty yang menjadi ikon kota New York.

Anda punya mimpi berwisata ke New York? Anda harus ingat bahwa New York itu bukan destinasi wisata terpopuler di dunia. Menurut sebuah situs wisata, popularitas New York adalah destinasi wisata yang berada pada peringkat 25, kalah dengan London di Inggris, Paris di Perancis dan Kreta di  Yunani yang berada pada posisi pertama, kedua dan ketiga sebagai destinasi wisata terpopuler di dunia.

Walau bukan yang terpopuler di dunia, New York tetap jadi impian banyak wisatawan atau siapa saja ingin berkunjung ke kota yang berjuluk “Big Apple” tersebut. Dalam perjalanan saat bus melaju dari Atlantic City menuju New York sempat muncul pertanyaan, mengapa New York disebut “The Big Apple?”

Adanya banyak hal-ihwal asal dari julukan “The Big Apple.” Salah satunya julukan “The Big Apple” dari seorang wartawan olahraga John J. Fitz Gerald yang bekerja pada koran The Morning Telegraph yang menulis di kolom balap kuda, “Around the Big Apple” pada tahun 1920. Pada 18 Februari 1924, ia memulai setiap kolom dengan tajuk, “The Big Apple.”

Ternyata New York City juga memiliki julukan lain diantaranya, The Great American Melting Pot, Gotham, dan The City that Never Sleeps. New York adalah salah satu kota mega metropolitan di dunia. Penduduknya lebih dari 20 juta dan merupakan salah satu kota terpadat di Amerika Serikat (AS) atau bahkan seluruh dunia. New York itu pesona, maka tak heran banyak orang punya mimpi ingin berkunjung ke New York.

Perjalanan menuju New York dimulai dari Washington DC. Dari ibu kota negeri Paman Sam tersebut adalah perjalanan dengan kombinasi antara melelahkan sekaligus menyenangkan. Sebelum mencapai New York ada destinasi yang menjadi tempat persinggahan, Philadelpia dan Atlantic City.

Philadelphia adalah kota terbesar di negara bagian Pennsylvania dan salah satu kota paling bersejarah di Amerika Serikat. Perjuangan kemerdekaan Amerika Serikat banyak melibatkan kota ini dan ibu kota AS bahkan sempat dipindahkan ke Philadelphia. Dari Philadelpia perjalanan berlanjut ke Atlantic City untuk bermalam Trump Taj Mahal Casino & Resort milik Donald Trump. Saat menjelang malam, kaki menapak ke lobi hotel milik salah seorang kaya di AS Donald Trump (sebelum menjadi Presiden Amerika Serikat). Saat melangkah menuju lift untuk menuju kamar, mata tertuju ke ruangan yang gemerlap, di sebelah kanan terhampar arena kasino dengan ratusan slot machine  terpasang.

Trump Taj Mahal Casino & Resort di Atlantic City, dibuka 5 April 1990 dengan mengundang mega bintang Michael Jackson. Setelah beroperasi selama 26 tahun pada 10 Oktober 2016 kasino Taj Mahal Trump yang disebut “Keajaiban Dunia ke-8” pun tutup setelah terus menerus menderita kerugian. Di Atlantic City, Trump membeli tiga kasino yaitu Trump Plaza, Trump Castle dan Trump Taj Mahal. Taj Mahal dibeli Trump dari pemiliknya Resorts International yang tidak dapat menyelesaikan pembangunannya.

Setelah tutup sekitar dua tahun, pada 2018 hotel ini kembali beroperasi. Sejak 27 Juni 2018 Trump Taj Mahal Casino & Resort berganti nama menjadi The Hard Rock Hotel & Casino Atlantic City. Atlantic City terkenal dengan Broadwalk, atau area jalan kaki sepanjang 4 mil.

Usai sarapan perjalanan menuju Woodbury Commons Premium Outlets dan beralamat di 345 Red Apple Court, Central Valley, New York.  Tempat ini merupakan Factory Outlet (FO) yang selalu jadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi. Hampir semua biro perjalanan wisata selalu memasukan destinasi FO dalam daftar ittenary-nya. Apa itu FO? Para pelancong pasti tahu, seperti di kota Bandung banyak berdiri FO.

Lihat Juga  Bunga Sakura Mekar di Kastil Himeji

Woodbury Commons Premium Outlets terletak di tengah bukit hutan lebat yang berjarak sekitar 80 km dari New York terbentang di atas lahan sekitar 60 hektar. Di sini ada sekitar 200 outlets yang menjual berbagai jenis barang merek alias branded. Aneka merek barang branded ada di sini (maaf tak sebut nama karena bukan advetorial)  dari alas kaki sampai yang bertengger di atas kepala. Hampir semua yang barang yang dijualkan menawarkan diskon yang menggiurkan. Ada yang diskon sampai 70 persen.

Bagi penggila belanja dan bagi yang membawa dolar AS berlebih atau gesek kartu kredit, Woodbury mungkin sebuah nirwana. Kalau ingin berkeliling sekedar cuci mata, waktu tiga jam kurang, karena belum semua outlet bisa dikunjungi. Walaupun barang-barang yang dijual branded, jangan kaget kalau ketemu alas kaki made in Indonesia dengan merek terkenal di dunia. Ada juga made in negara Asia dan Amerika Latin lainnya. Walau buatan Indonesia, tidak berarti kualitasnya KW1 atau 2, melainkan kualitas premium buatan Indonesia.

Woodbury Commons Premium Outlets sudah dikunjungi, kini saatnya menuju New York mengunjungi Broadway, patung Liberty, Empire State Building (ESB)  dan Time Square untuk berteriak lantang di tengah keramaian manusia mancanegara, “New York I’am Coming.”

Senja menjelang saat memasuki New York, kemacetan mulai terasa. Musik yang bersenandung di dalam bus bukan lagu “New York New York” dari Franks Sinantra melainkan musik rock dari grup band lawas CCR (Creedence Clearwater Revival) asal California dengan lagu Have You Ever Seen the Rain, Hey Tonight, Born on The Bayou dan Cooton Fields.

Saat tiba di Hotel Crown Plaza yang terletak selemparan batu dari Time Square atau hanya beberapa langkah dari Broadway. Tepatnya beralamat di 1601 Broadway, matahari sudah tak nampak lagi tertutup gedung-gedung pancakar langit berganti dengan cahaya lampu aneka warna yang gemerlap.

Mengutip Wikipedia, Hotel Crowne Plaza Times Square adalah hotel dengan 795 kamar yang tersebar di 46 lantai terletak di kawasan Times Square di tengah kota New York City, Manhattan. Adalah hotel tertinggi ke-29 di Amerika Serikat, dan hotel tertinggi ke-15 di New York City. Pembangunannya  dirancang oleh The Alan Lapidus Group, selesai pada tahun 1989 dan dibuka tahun 1990.

Usai beristirahat sejenak, saatnya bersiap mencari makan malam dan berkeliling New York pada malam hari dengan berjalan kaki. New York adalah kota yang ramah untuk pejalan kaki. Kota ini sama dengan kota Paris, ramah bagi pejalan kaki. New York meski ramai kendaraan yang lalu Lalang namun tetap nyaman untuk pejalan kaki. Menjelajah kota ini selain bisa dengan naik kereta bawah tanah adalah berjalan kaki.

Jalan kaki menjadi pilihan untuk menuju Empire State Building. Dari Hotel Crown Plaza menuju gedung yang kini kembali menjadi gedung tertinggi di New York pasca runtuhnya menara WTC pada 11 September 2001, hanya butuh waktu tak sampai 20 menit.

Empire State Building adalah landmark New York dengan tinggi 443 meter memiliki 102 lantai. Dari lantai 86 dan lantai 102 pengunjung bisa menyaksikan kota New York. Gedung ESB terkenal di dunia karena kerap menjadi lokasi shooting dan bagian dari cerita beberapa film produksi Hollywood seperti King Kong, Independence Day, dan Percy Jackson & The Olympians: The Lightning Thief. Film King kong pertama kali dibuat tahun 1933 kemudian di-remake tahun 1976 dan 2005, ESB selalu menjadi bagian dari cerita film tersebut.

Lihat Juga  Stimulus Wisata Domestik di Era New Normal

Masuk dan naik ke puncak ESB tidak gratis. Untuk mencapai lantai 86 pengunjung harus membeli tiket US$ 25 dan untuk sampai top deck atau lantai 102 harga US$  42 untuk dewasa dan US$  36 untuk anak-anak. Untuk memasuknya harus antre dan melewati pemeriksaan keamanan yang ketat dari petugas dengan melepas jaket dan mengeluarkan barang elektronik dari dalam tas.

Empire State Building termasuk kategori gedung tua, pembangunannya dimulai 1929 selesai tahun 1931 dan menjadi gedung tertinggi di dunia sampai tahun 1972. Gedung dengan gaya arsitektur art deco didesain arsitektur Shreve, Lamb and Harmon.

Selain ESB, New York menawarkan beberapa destinasi lainnya, seperti The Broadway Show, The 9/11 Memorial & Museum, Stasiun kereta bawah tanah tua, Taman atap Rockefeller Center, Central Park, Perpustakaan New York, Brooklyn Bridge, Museum Of Modern Art, American National History Museum, Wall Street, Fifth Avenue, dan beberapa destinasi lainnya.

Sebelum meninggalkan New York via bandara JFK, jangan lupa mendatangi Statue of Liberty National Monument, Ellis Island dan Liberty Island. Tak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi patung Liberty yang menjadi ikon kota New York. Patung yang memiliki tinggi 93 meter dan terbuat dari tembaga itu bukan dibuat di Amerika Serikat. Patung yang didesain Frederic Auguste Bartholdi dengan kerangkanya dibuat Gustave Eiffel yang mendesain menara Eiffel di Paris, dibuat di Perancis.

Patung ini dibawa ke New York dalam satuan yang terpisah sebanyak 350 keping yang dikemas dalam 214 peti. Patung yang merupakan hadiah seratus tahun kemerdekaan Amerika Serikat dan merupakan ungkapan persahabatan antara kedua negara. Patung Liberty melambangkan kemerdekaan dan kebebasan dari tekanan. Patung ini diresmikan 22 Oktober 1886 dan tahun 1984 terdaftar dalam daftar Situs Warisan Dunia Unesco.

Patung Liberty yang kini terlihat berwarna hijau ternyata bukan warna aslinya. Patung yang terbuat dari tembaga tersebut karena setiap hari teroksidasi maka munculah patina yang berwarna hijau terang. Patina adalah partikel paling luar yang biasa terbentuk akibat oksidasi tembaga tersebut.

Di pulau Liberty tidak hanya sekedar berfoto dan menatap takjub patung berjubah yang tangan kanannya memegang obor dan tangan kiri memegang papan yang bertuliskan tanggal kemerdekaan Amerika Serikat. Sebelum meninggalkan pulau Liberty untuk menyebrang ke daratan New York bisa mampir ke toko yang menjual souvenir.

Untuk mencapai pulau Liberty yang sebelumnya bernama pulau Bedloe bisa dengan naik ferry dari dermaga di Battery Park. Di kawasan ini ada benteng Castle Clinton yang dibangun 1812. Nama Clinton bukan diambil dari nama Presiden Amerika Serikat Bill Clinton melainkan dari nama Walikota New York Dewitt Clinton. Harga tiket ferry menyebrang ke pulau Liberty dan pulau Ellis untuk dewasa mulai US$ 12, anak-anak US$ 5. Jika ingin sampai naik ke area atas patung atau bahkan mahkota patung, dikenai tambahan US$ 3.

“I want to wake up in a city, that never sleeps,” senandung Frank Sinatra. Bey bey …. New York. 𝞨𝞨

Editor : MA

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button