NASIONAL

Menteri LHK : “Antisipasi Karhutla Tetap Prioritas di Tengah Corona”

EkbisNews.com, Jakarta — Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menegaskan tim Satgas (satuan tugas) tetap bekerja keras mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

Dalam siaran pers Kementerian LHK, Menteri Siti Nurbaya mengatakan, “Karhutla tetap jadi prioritas kerja pemerintah. Sebagaimana arahan Presiden Joko Widodo meski kita menghadapi masa sulit karena penyebaran Covid-19, pelayanan prioritas tidak boleh terganggu.”

Menurut Siti Nurbaya, kerja tim di lapangan dan koordinasi tim supervisi tetap jalan mengantisipasi karhutla, terutama di wilayah rawan. Tim satgas lapangan ini tidak hanya bekerja di titik terdepan saat terjadi karhutla, namun juga rutin turun melakukan sosialisasi bahaya karhutla dan penyebaran virus corona Covid-19 secara door to door ke rumah warga.

“’Saya ucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya pada tim lapangan atas dedikasinya. Tetap jaga kesehatan dan keselamatan tim. Saya terus mengikuti laporan dari lapangan ini setiap hari,” ujar Menteri LHK.

Apresiasi dan terima kasih Menteri LHK Siti Nurbaya terutama disampaikan pada anggota Manggala Agni Kementerian LHK, TNI, Polri, BPBD, BNPB, BPPT, BMKG, unsur pemda lainnya, swasta, Masyarakat Peduli Api (MPA) yang terus menerus masih tetap bekerja di tengah situasi pandemi.

Lihat Juga  Kementerian LHK Antisipasi Karhutla Berbasis Tapak

Berdasarkan analisis BMKG, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Juni-Juli 2020, terutama pada wilayah Provinsi Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur.

Sementara untuk mengantisipasi ancaman karhutla di musim kemarau serta meningkatkan koordinasi dan komunikasi di tingkat Satgas Nasional, Menteri LHK telah memimpin rapat antisipasi karhutla 2020 secara virtual.

Rapat diikuti Wakil Menteri LHK, Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG), dan jajaran eselon I dan II lintas instansi terkait.

Menteri LHK mengingatkan, “Untuk Karhutla kita tidak bisa menunggu, harus dari sekarang upaya antisipasi seperti teknologi modifikasi cuaca dilakukan. Kita sudah menyurati para kepala daerah awal Maret dan meminta semua pihak termasuk swasta dan pemangku kawasan untuk waspada karhutla.”

Sementara itu Kepala BMKG, Dwi Korita menjelaskan, bahwa Indonesia pada tahun ini mengalami El Nino netral dengan tingkat kekeringan pada musim kemarau lebih tinggi dibandingkan normalnya.

Lihat Juga  Kementerian LHK, Polri dan Kejagung Terbitkan SKB Pidana Karhutla

“Awan hujan masih tersedia sekitar bulan April-Mei, sehingga ini waktu yang paling tepat untuk menyelenggarakan teknologi modifikasi cuaca pada beberapa provinsi rawan karhutla untuk mengisi embung dan membasahi gambut,” katanya.

Menurut Kepala BPPT Hammam Riza, pelaksanaan TMC (teknologi modifikasi cuaca) akan lebih efisien apabila menggunakan pesawat berkapasitas besar milik TNI.

BPPT sudah melaksanakan TMC di Provinsi Riau dengan pelaksanaan sebanyak 27 sorti menghasilkan hujan hampir setiap hari dengan volume 97,8 juta m3 sehingga titik hotspot di Riau pernah berkurang hingga nihil. “Namun tantangan karhutla di provinsi ini masih sangat besar saat nanti datang musim kemarau,” ujarnya.

Dari data Kementerian LHK, berdasarkan Satelit Terra/Aqua (NASA) Conf. Level = 80%, hotspot per tanggal 1 Januari-23 April 2020 sebanyak 737 titik. Sedangkan pada periode yang sama tahun 2019 jumlah hotspot sebanyak 1.177 titik. Artinya terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 440 titik atau 37,38 persen.

Editor : Maspril Aries

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button