LifeStyle

Mengenal Senjang dari Muba pada Era Milenial

Oleh : Maspril Aries
Wartawan Utama/ Pemimpin Redaksi www.ekbisnews.com

Ada banyak tradisi sastra tutur atau sastra lisan di Indonesia, termasuk di Sumatera Selatan (Sumsel) memiliki tradisi sastra tutur yang beragam. Mau tahu jenis tradisi sastra tutur di Sumsel?

Ini dia jenis tradisi sastra tutur yang masih bisa ditemukan di tengah masyarakat Sumsel. Di Ogan Komering Ulu (OKU) dikenal adanya Njang Panjang dan Bujang Jelihim, kemudian di Ogan Komering Iliur (OKI) ada dikenal Nyanyian Panjang dan Bujang Jemaran, di Ogan Ilir masyarakat mengenal adanya Jelihiman di Ogan Ilir. Di Kabupaten Lahat dikenal ada sastra tutur yang disebut Geguritan, Betadur, dan Tangis Ayam. Di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dikenal dengan nama “Senjang.”

Sastra lisan atau sastra tutur dari Sumatera Selatan termasuk sastra lisan rumpun Melayu. Masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel) adalah rumpun/suku Melayu, dan dikenal adanya Melayu Palembang, Melayu Ogan, Melayu Komering, Melayu Musi dan lainnya.

Kekayaan beragam suku di Sumsel sama kayanya dengan jenis sastra lisan yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat Sumatera Selatan. Jenis sastra lisan yang dikenal di tengah masyarakat adalah mantra juga sering disebut jampi, sepengucap, ilmu tumbuk, pengasihan, penawar dan sebagainya. Kemudian ada ada pantun, dongeng dan tembang (nyanyian) yang dikenal dengan nama tembang Batanghari Sembilan, termasuk senjang dari Muba.

Berbagai sastra tutur di Sumsel tersebut lahir dan hidup serta berakar dari nenek moyang masyarakat Sumatera Selatan. Sebagai tradisi yang sudah ada sejak lama, beberapa sastra tutur di Sumsel dalam era milenial sekarang ini hampir punah. Minat generasi milenial yang rendah terhadap tradisi dan budaya lokal membuat keberadan sastra lisan semakin semakin kehilangan penuturnya.

Semakin tersisih tradisi sastra tutur di banyak daerah termasuk Senjang di Muba membuat pemerintah setempat atau Pemerintah Kabupaten Muba melestarikannya dengan berbagai upaya agar Senjang tetap disenangi generasi milenial.

Lihat Juga  Ada Perpustakaan Keluarga di Kampung Pekijing, Taktakan, Serang

“Berbagai upaya dilakukan agar tradisi Senjang tetap hidup dalam masyarakat dan disenangi generasi muda khusus generasi milenial, diantaranya melalui lomba. Seperti pada Festival Randik diadakan lomba kategori Senjang. Pada 2018 lalu juaranya Wulandari seorang gadis muda dari Plakat Tinggi,” kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Muba Herryandi Sinulingga.

Menurut Sinulingga, Senjang juga digunakan untuk sosialisasi dan kampanye anti Narkoba. Seperti dilakukan Wulandari menggunakan Senjang sebagai media kepada masyarakat tentang bahaya narkoba.

Apa itu Senjang?

Ada banyak pengertian tentang Senjang. Silahkan cari melalui internet di mesin pencari yang tersedia. Tradisi Senjang hidup di tengah masyarakat Muba sebagai sebagai media untuk menyampaikan nasihat atau ajakan untuk berbuat baik yang disampaikan dengan cara tidak menguhjat ataupun menggurui melalui pantun-pantun Senjang. Nasihat tersebut memiliki konteks yang menyentuh kehidupan sosial, rumah tangga, maupun ekonomi dan aspek-aspek lainnya. Sasaran dalam nasihat tersebut menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Atau Senjang adalah bentuk media seni budaya komunikasi antara orang tua dengan generasi muda atau dapat juga antara masyarakat dengan pemerintah dalam penyampaian aspirasi yang berupa nasehat, kritik, maupun penyampaian rasa gembira.

Dalam penampilannya Senjang berbeda dengan satra tuturu atau seni musik pada umumnya. Walau diring tanjidor atau organ tunggal Senjang antara syair lagu/ pantun dan iringan musik tidak saling bertemu atau bersamaan. Saat musik berbunyi, penutur penampil Senjang tidak bernyanyi dan hanya menari. Kemudian saat penutur bernyanyi/ berpantun maka musik diam. Dengan format penampilan seperti itu masyarakat kemudian kesenian atau tradisi tersebut Senjang. Senjang ditinjau dari makna katanya, dalam bahasa Musi dapat diartikan kesenjangan, atau kondisi yang tidak selaras.

Kini Senjang selain terancam terlupakan juga mengalami perubahan dalam penyajian atau tampilannya. Tradisi Senjang mulanya hanya sebagai sastra tutur atau nyanyian tanpa diiring musik. Kemudian Senjang ditampilkan dengan menggunakan instrumen musik tanjidor. Pada era milenial, tanjidor dalam mengiringi Senjang sudah tergantikan oleh organ tunggal. Isi pantun Senjang yang pada awalnya berupa nasehat, sindiran, atau ungkapan perasaan, kini juga berisi pujian dan sanjungan dan juga berisi pesan kampanya.

Lihat Juga  Tim Gabungan Pemkab Muba Pindahkan Pasar Talang Jawe ke Pasar Randik

Fungsi Senjang pun mengalami perluasan. Mau tahu apa saja fungsi Senjang (baca terus sampai selesai). Awalnya Senjang adalah sarana hiburan dan komunikasi masyarakat, kini berkembang menjadi media propaganda, seperti menyampaikan kampanye anti narkoba. Selain itu Senjang bagi para senimannya bisa menjadi sumber penghasilan.

Dengan berbagai perubahan yang terjadi ternyata Senjang mampu menghadapi tantangan zaman khususnya pada era milenial. Senjang kini dikemas atau digarap menjadi seni pertunjukan dengan tampilan baru, terlebih setelah menggunakan alat musik modern seperti keyboard. Perubahan lainnya, penampilan Senjang pada masa lalu kerap dimainkan malam hari, kini sudah sangat jarang dan Senjang sering ditampilkan pada siang hari.

Tulisan Senjang ini segera berakhir, untuk mengakhirnya saya kutip tulisan dari Arif Ardiansyah staf pengajar Universitas PGRI Palembang. Dia menulis dalam sebuah jurnal ilmiah. “Tradisi lisan enjang merupakan bentuk ekspresi masyarakat Musi Banyuasin yang mengandung nilai-nilai luhur masyarakat setempat yang menjadi identitas lokal. Untuk mempertahankan salah satu budaya yang masih eksis di Musi Banyuasin, diharapkan masyarakat Musi Banyuasin memahami bahwa tradisi Senjang merupakan kekayaan yang menjadi ciri khas daerah tersebut dan dapat menjadi sumber deposit kekayaan yang tidak habis-habisnya.”

Masyarakat Musi Banyuasin harus memahami bahwa tradisi senjang yang memuat kearifan lokal bermanfaat bagi mereka sebagai bahan ajar kehidupan. Selain itu, masyarakat harus diyakinkan bahwa hilangnya sebuah tradisi yang merupakan identitas lokal akan menggerus karakter masyarakat Musi Banyuasin. Oleh sebab itu, perlu keterlibatan secara penuh dalam upaya melestarikan tradisi senjang melalui berbagai pertunjukan senjang di luar acara-acara adat dan kegiatan-kegiatan yang melibatkan masyarakat luas.

Setelah membaca tulisan ini, sekarang sudah mengertikan tentang Senjang? ●

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button