NASIONAL

Meme Alex Noerdin, UU ITE dan UU Hak Cipta

Oleh : Maspril Aries
Wartawan Utama/ Penggiat Kaki Bukit Literasi

Banyak netizen terjebak dalam kubangan kejahatan mayantara (cybercrime) dengan berbagai motif dan dilakukan oleh beragam pelaku mulai dari usia remaja hingga orang tua, laki-laki atau perempuan.

Pada hari pertama Ramadhan 1442 H terbaca berita di media massa tentang pencemaran nama baik anggota DPR Alex Noerdin. Melalui kuasa hukumnya dari Kantor Advokat Polis Abdi Hukum menjelaskan, pencemaran nama baik tersebut dilakukan dalam bentuk meme yang disebarkan melalui media sosial (medsos) grup WhatsApp (WA).

Advokat kuasa hukum Wakil Ketua Komisi VII tersebut menjelaskan, pada meme yang menggunakan foto latar Alex Noerdin yang tengah diwawancarai wartawan dilengkapi dengan teks dalam bahasa Palembang yang isinya, “Balekkela mang duit masjid tu tebuang kau.” Pada teks lainnya tertulis, “Cakmano Lur La abis.”

Menurut advokat Redho Junaidi, meme tersebut merendahkan harkat dan martabat klien kami. “Seolah-olah yang dengan sengaja membuat meme tersebut mendahului proses hukum yang saat ini tengah berjalan,” katanya.

Tindakan hukum selanjutnya, para advokat tersebut akan melaporkan si pembuat dan penyebar meme ke polisi dengan pelanggaran terhadap Pasal 45 ayat 3 UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) mengenai pencemaran nama baik dengan ancaman pidana penjara empat tahun.

Pasal 45 ayat (3) : Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak  Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).

Apa itu Meme?

Kata “meme” berasal dari bahasa Yunani “mimeme” yaitu sebutan bagi satuan terkecil dari sebuah budaya yang mirip seperti gen. Satuan ini mampu berkembang-biak, layaknya gen yang berkembang dengan memperbanyak diri dari satu tubuh ke tubuh, meme berkembang-biak dari satu pikiran kepada pikiran yang lain melalui proses imitasi.

Kata “meme” pertama kali diperkenalkan secara luas oleh Richard Dawkins dalam “The Selfish Gene” yang diterbitkan Oxford University Press, 1967. Menurut Dawkins, beberapa contoh dari meme ialah ide, lagu, gaya berpakaian, atau cara untuk melakukan sesuatu. Dalam pemikiran Dawkins menganggap meme seperti ‘virus’ yang menyebar didalam satu populasi pada satu masa generasi (seperti epidemi).

Kehadiran teknologi informasi (TI) atau teknologi didigtal khususnya internet telah mengubah cara masyarakat di muka bumi berinterkasi. Internet mengubah  kebiasaan masyarakat yang mulanya lebih suka berkumpul dan bercengkerama di dunia nyata, kini menjadi lebih gemar berkumpul dengan komunitasnya di alam maya. Ada proses komunikasi yang berbeda dengan era sebelum dan berkembangnya internet di muka bumi.

Lihat Juga  Sekjen dan Perwakilan Tetap ASEAN Kunjungi Intelligence Center Kementerian LHK

Proses komunikasi digital dengan internet telah membuat meme berkembang kepada level yang lebih modern, bergeser dari cara komunikasi konvensional menuju cara yang lebih maju dengan memperbarui dirinya menjadi internet meme.

Menurut Branislav Buchel dalam “Internet Memes as Means of Communication” (2012) yang mengutip Knobel & Lankshear, “Internet meme adalah istilah terkenal untuk menyebut ide tertentu yang dengan cepat terkenal dan menyebar, biasa diwujudkan dalam bentuk teks, gambar, pergeseran gaya bahasa, atau beberapa unsur kebudayaan yang lain.”

Di Indonesia meme yang kerap diunggah di media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan WhatSap oleh para pemilik akun dianggap sebagai gambar ekspresi seseorang yang ditumpahkan lewat gambar-gambar. Menurut Aditya Nugraha dalam Jurnal Sosioteknologi, meme bisa menyebar dalam bentuk aslinya juga ada yang memunculkan turunan atau pembaruan yang dibuat oleh pengguna.

Kehadiran fenomena meme melalui medsos tak urung memicu perdebatan. Ada yang menyebut meme sebagai sumber kesenangan terbaru dengan gambar-gambar lucunya. Tetapi di sisi lain, rentan terhadap pelanggaran hukum. Meme dalam konten dan penyebarannya berpotensi melanggar hukum siber yakni UU ITE dan UU Hak Cipta.

Dalam meme ada potensi pelanggaran yang ditunjukkan dengan adanya muatan konten tindak tutur ilokusi (tindak tutur yang biasanya diidentifikasikan dengan kalimat performatif yang eksplisit) dan ekspresif yang bersifat penghinaan. Bentuk penghinaan adanya penggunaan bentuk lingual seperti gila, idiot, pencuri, dan penipu. Tujuan penghinaan secara jelas ditujukkan kepada penyerangan pribadi.

Meme kerap juga menggunakan latar foto atau karikatur yang mencaplok karya orang lain dengan cara yang culas tanpa menuliskan sumbernya, seperti mencuplik dari media massa dan sebagainya. Walau foto dan karya kreativitas tersebut sudah tersebar luas melalui berbagai platform bukan berarti hak ciptanya lantas menjadi hilang tertelan bumi dan bisa menjadi milik bersama. Jika foto yang digunakan karya orang lain, pada foto tersebut melekat hak cipta.

Dalam pemahaman netizen, meme adalah bagian dari demokrasi dalam bentuk kebebasan berpendapat yang dilindungi secara konstitusional seperti tertuang dalam UUD 1945 pasal 28 E ayat 3. Namun kebebasan berpendapat tidak terlepas dengan penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi. Kebebasan menyampaikan pendapat adalah keadaan bebas dari tekanan untuk mengemukakan gagasan atau buah pikiran, baik secara lisan maupun tertulis dan sebagainya secara bebas dan bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Namun yang terjadi di era milenial dengan perkembangan TI yang berkembang pesat, dengan menawarkan berbagai kemudahan melalui media sosial para netizen mengeluarkan pendapat dan informasi lalu disebarkan secara tidak bijak. Banyak informasi yang disebar mengandung unsur SARA, informasi bohong (hoaks) sampai pencemaran nama baik seseorang.

Lihat Juga  Alex Noerdin Penuhi Aspirasi Warga Sumsel Bangun 16 Sumur Bor

Perilaku netizen ini dapat terjerat hukum dengan melanggar UU ITE. Pasal 45 UU ITE salah satunya mengatur jenis pelanggaran pidana berkomunikasi dengan menggunakan media teknologi dan informasi. Kasus kriminal cyber crime khususnya pelanggaran UU ITE para pelakunya sudah banyak yang diputus bersalah oleh pengadilan negeri di seluruh Indonesia. Termasuk yang terkait dengan pembuatan dan penyebaran meme melalui media sosial.

Banyak netizen terjebak dalam kubangan kejahatan mayantara (cybercrime) dengan berbagai motif dan dilakukan oleh beragam pelaku mulai dari usia remaja hingga orang tua, laki-laki atau perempuan. Salah satunya, sadar atau tidak sadar mereka melakukan kejahatan pencemaran nama baik yang melalui media sosial atau media online lainnya. Pencemaran nama baik selama ini dikenal sebagai tindakan kejahatan yang bertujuan untuk mencemarkan nama baik seseorang dalam bentuk tertulis maupun tidak tertulis dan akan menimbulkan dampak buruk yang merugikan seseorang bagi yang namanya tercemar atau yang dicemarkan.

Mengutip data yang diliris SAFEnet tahun 2018, mereka yang terlapor dalam pelanggaran UU ITE berasal dari latar belakang profesi yang beragam. Ada kelompok masyarakat awam, aktivis, mahasiswa, pelajar, guru, dosen, jurnalis, ada pejabat negara, aktivis LSM, pengacara, pengusaha, karyawan, selebriti, sampai tenaga medis, satpam dan anggota partai politik.

Kemudian meme juga berpotensi melanggar UU Hak Cipta Pasal 40 ayat (1) yang terkait jenis-jenis karya cipta yang dilindungi. Salah satu karya cipta yang rentan dilanggar hak ciptanya ialah karya fotografi ataupun potret.  Pasal 115 UU Hak Cipta mengatur hak eksklusif seseorang atas potret dirinya, yang berbunyi: “Setiap Orang yang tanpa persetujuan dari orang yang dipotret atau ahli warisnya melakukan Penggunaan Secara Komersial, Penggandaan, Pengumuman, Pendistribusian, atau Komunikasi atas Potret sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 untuk kepentingan reklame atau periklanan untuk Penggunaan Secara Komersial baik dalam media elektronik maupun non elektronik, dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).”

Dalam kasus pencemaran nama baik atau pelanggaran terhadap UU ITE banyak pakar hukum dan TI serta penegak hukum mengingatkan, agar masyarakat terlebih dahulu berpikir sebelum mengunggah suatu konten ke media sosial atau media online.

Sebuah pesan dari Carl Gustav Jung juga patut menjadi renungan bagi mereka yang kerap bermedsos-ria. “Banyak orang lebih suka menghakimi, sebab berpikir itu sulit.”

Editor : MA

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close