Olahraga

Kaesang, Erick dan Persis

Oleh : Maspril Aries
Wartawan Utama. Penggiat Kaki Bukit Literasi

Bersatunya Kaesang, Erick dan Persis adalah kolaborasi, ekonomi, industri dan olahraga.

Sepak bola Indonesia memulai babak baru setelah kompetisi terhenti dan pertandingan sepak bola tiada akibat pandemi Covid-19, di Solo pada 21 Maret 2021 sepak bola negeri ini mulai bergulir kembali. Di Stadion Manahan Solo nan megah setelah direnovasi untuk Piala Dunia U-20 yang urung terlaksana pada 2021, Piala Menpora resmi dibuka Menpora Zainudin Amali dengan sajian pertandingan pertama antara Arema FC vs Persikabo 1973.

Sepak bola Indonesia kini telah kembali ke lapangan hijau. Namun satu hari sebelumnya, juga di Solo di stadion Manahan. Seorang anak muda bernama Kaesang Pangarep menggelar jumpa pers mengumumkan pemilik baru klub Persis Solo dibawah naungan PT Persis Solo Saestu (PSS). Klub berjuluk Laskar Samber Nyawa tersebut resmi dimiliki Kaesang Pangarep dengan saham 40 persen dan menjabat Direktur Utama PT PSS, Kevin Nugroho memiliki saham 30 persen dan Ericik Thohir memiliki saham 20 persen. Sisanya 10 menjadi milik 26 klub internal Persis Solo.

Kepada wartawan Kaesang menyatakan komitmennya untuk membawa Persis Solo ke Liga 1 Indonesia. Persis Solo adalah klub sepak bola yang lahir tahun 1923 jauh sebelum PSSI berdiri. Dua tahun lagi klub yang awalnya bernama “Vorstenlandsche Voetbal Bond” (VVB) akan berusia satu abad.

Kaesang Pangarep memang bukan berlatar pemain sepak bola atau pemilik klub sepak bola. Namun untuk mengambil alih kepemilikan Persis Solo putra Presiden Joko Widodo tidak tanggung-tanggung menggandeng tokoh yang sudah malang melintang dan makan asam garam mengelola klub sepak bola profesional di Eropa dan Amerika Serikat. Tokoh tersebut adalah Erick Thohir yang kini menjabat Menteri BUMN. Erick Thohir menempatkan putranya Mahendra Agakhan Thohir sebagai Komisaris PT Persis Solo Saestu yang akan mengelola Persis mengarungi kompetisi Liga 2 Indonesia dengan target promosi ke Liga 1.

Erick Thohir yang dikenal sebagai pengusaha media sukses adalah tokoh yang suka olahraga, sukses dalam mengelola klub sepak bola dan bola basket. Klubnya ada di Eropa dan Amerika Serikat serta di Indonesia. Pekan lalu berita tentang Erick Thohir terkait dengan sepak bola tersebar di banyak media dari yang di Indonesia sampai yang ada di Inggris. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Erick Thohir menjadi pemilik Persis Solo dan Oxford United, klub yang berkompetisi di League One (kasta ketiga Liga Inggris).

Setelah melepas sahamnya di Inter Milan, Erick Thohir dan Anindya Bakrie yang tergabung dalam sebuah konsorsium membeli saham milik pengusaha asal Thailand, Sumrith “Tiger” Thanakarnjanasuth. Kini konsorsium tersebut menguasai 51 persen kepemilikan saham mayoritas klub kota London berusia 126 tahun. Mengutip media di Inggris, Oxfordmail.co.uk dan Telegraph.co.uk dalam sepekan ke depan konsorsium Indonesia itu akan menuntaskan transaksi pembelian saham, sekaligus mengajukan business plan untuk mendapat persetujuan dari English Football League.

Bersatunya Kaesang, Erick dan Persis adalah kolaborasi, ekonomi, industri dan olahraga. Sepak bola adalah olahraga dan kultural, sepak bola di muka bumi kini telah menjalankan fungsi ekonominya dan menjelma menjadi industri. Semakin berjalannya fungsi ekonomi dari sepak bola maka perkembangan klub semakin baik dan meningkat dan berdampak pada kesejahteraan pemain. Sepak bola telah menjadi industri dan memiliki magnet ekonomi. Untuk apa capek-capek Kaesang dan Erick yang sukses dengan bisnis mau mengurusi klub sepak bola kalau tidak ada nilai ekonomi yang menggiurkan dari cabang olahraga yang paling banyak penonton dan peminatnya sejagat.

Lihat Juga  Sriwijaya FC Jadi juara Paruh Musim, Namun Butuh 37 poin lagi Biar Aman

Sepak bola sebagai industri tak cukup hanya memberikan keuntungan bagi klub (pemilik) dan pemain. Konsep sepak bola sebagai industri adalah bagaimana sepak bola bisa menguntungkan semua pihak yang terlibat mulai dari pemain, panitia pelaksana, klub, hingga penikmat sepak bola atau suporter.

Klub meraih keuntungan dengan memanfaatkan berbagai aset yang dimiliki, mulai jual beli pemain, penjualan tiket pertandingan, penjualan berbagai bentuk produk yang memiliki daya tarik bagi penonton dan suporter serta perusahan yang akan berpromosi dengan menjadi sponsor klub. Dalam rantai industri sepak bola semua yang saling terkait berimbas pada tumbuhnya kegiatan ekonomi pendukung.

Industri sepak bola yang tumbuh dan berkembang di Eropa sudah berimbas ke Indonesia. Klub-klub sepak bola yang dulu dimodali pemerintah daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kini telah menjelma menjadi suatu perusahaan yang berbadan hukum. Atau klub yang dulu amatir kini menjadi klub profesional.

Persis Solo sendiri adalah klub dengan pendukung atau suporter dalam jumlah yang besar tergabung dalam Pasoepati dan Surakartan yang memiliki sejarah panjang. Usia klub ini lebih tua dari usia Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).

Sejarah berdirinya VVB di Solo tidak terlepas dari praktek kolonial Belanda yang menganatirikan penduduk bumiputra pada cabang sepak bola. Dalam buku “Politik dan Sepak Bola di Jawa 1920 – 1942” yang ditulis Srie Agustina Palupi menyebutkan, orang-orang Belanda melarang penduduk bumiputra yang tidak boleh bergabung dengan perkumpulan olahraga sampai dilarang memasuki lapangan sepak bola.

Karena praktek diskriminasi tersebut lalu penduduk bumiputra mendirikan klub-klub sepak bola lokal. Sepak bola di bumi Hindia Belanda pada masa itu menjadi permainan atau olahraga yang paling diminati. Lalu Perhimpoenan Djawa Voetbalen ROMEO Legioen, De Lewwuw dan MARS mencetuskan mendirikan klub sepak bola bumiputra pada 8 November 1923 setelah pertandingan persahabatan antara veteran Solo melawan veteran Yogyakarta yang dilanjutkan dengan pembahasan di Hotel Slier Solo.

Dari pembahasan tersebut lalu disepakati mendirikan sebuah bond (perkumpulan sepak bola zaman Hindia Belanda) dengan nama “Vorstenlandsche Voetbal Bond” atau VVB. VVB berdiri selain untuk memperkenalkan sepak bola kepada warga Solo juga sebagai perlawanan dari diskriminasi yang dilakukan Nederlandsche Indische Voetbal Bond  atau organissasi sepak bola Belanda.

Kemudian pada 13 Mei 1933 dalam rapat tahun VVB disepakati perubahan nama VVB menjadi Persis Solo (Perikatan Sepak Raga Seloeroeh Soerakarta). Pergantian nama tersebut tidak terlepas dari anjuran PSSI untuk pemakaian nama Indonesia pada klub sepak bola yang berada di bawah naungan PSSI.

Lihat Juga  Berita Sepak Bola Musim Pandemi

Sebagai anggota PSSI klub kebanggaan warga Keresidenan Solo ini sempat berprestasi meraih gelar juara perserikatan. Klub yang bermarkas di stadion Sriwedari yang dibangun Pakubuwono X berhasil meraih gelar juara tahun 1935, 1939, 1940, 1941, 1942 dan 1943. Persis juga sempat menjalani laga persahabatan internasional melawan Winner Sport Club (WSC) dari Austria pada 17 Juli 1936 yang diundang NIVU (Nederlandsch Indische Voetbal Unie). Walau menderitaan kekalahan 10-0 Persis mampu memberikan kebanggaan bagi masyarakat Solo karena sebagai klub bumiptra yang sudah sejajar dan klub-klub bentukan pemerintah kolonial.

Seiring perjalanan waktu, semakin banyaknya klub bumiputra dan pamor Persis Solo mulai mendapat pesaing. Sejumlah piala dari berbagai turnamen dan kompetisi berhasil dikoleksi Persis pada tahun 1950-an sampai 1960-an. Persis juga mendapat undangan untuk menjalani pertandingan persahabatan internasional melawan Pathakor dari Rusia dan Middlesix Wanderes dari Inggris.

Pada era tahun 1970-an pamor Persis mulai merosot, kejayaannya mulai hilang. Pada tahun 1978 kota Solo kedatangan klub Arseto  dari Jakarta memindahkan markasnya ke Solo untu berlaga pada kompetisi Galatama masa itu. Arseto menjadi kebanggaan baru bagi masyarakat Solo setelah Persis tak kunjung berprestasi.

Setelah itu silih berganti berbagai klub sepak bola dari yang semi profesional sampai profesional memilih dan menjadikan Solo dengan stadion Manahan sebagai markas untuk mengikuti kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Setelah Arseto yang sempat menjadi juara Galatama kemudian pada tahun 2000 ada Pelita Solo yang sebelumnya bernama Pelita Jaya dan Pelita Mastrans. Setelah Pelita Solo hengkang dari stadion Manahan lalu datang Persijatim Jakarta Timur yang sempat berganti nama menjadi Persijatim Solo FC. Lalu Persijatim juga hengkang dari Solo ke Palembang dan berganti nama menjadi Sriwijaya FC. Sejak itu tak ada klub Indonesia berlaga di kasta tertinggi yang bermarkas di Solo, sementara Persis Solo masih berkutat kasta bawahnya atau Liga 2 Indonesia.

Kini dengan target Persis Solo lolos ke Liga I Indonesia di bawah Kaesang dan Erick, ini serupa tapi tak sama dengan kedatangan Roman Abramovich membeli Chelsea FC. Dengan kucuran uangnya besar pengusaha asal Rusia tersebut menginginkan Chelsea menjadi juara di Liga Primer Inggris dan menjadi juara Liga Champions Eropa. Target tersebut diwujudkan seorang manajer muda asal Portugal Jose Mourinho.

Datang ke klub berjuluk The Blues tahun 2004, pelatih berjuluk “Special One” tersebut berhasil mewujudkan mimpi Roman Abramovich dan Chelsea dengan memberi dua gelar juara Liga Inggris, satu Piala FA dan dua Piala Liga minus Piala Liga Champions. Akan keberuntungan seperti Chelsea juga menjadi miliki Persis Solo di bawah manajemen baru, kembali bermain di Liga 1 Indonesia? Waktu dan kompetisi yang akan membuktikannya karena Persis Solo harus bersaing dengan 23 klub lainnya yang kini berada di Liga 2 Indonesia yang juga memiliki target yang sama, promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Editor : MA

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close