Travel

Grasberg Destinasi di Puncak Indonesia

Oleh : Maspril Aries
Wartawan Utama/ Penggiat Kaki Bukit Literasi

Jika sudah tiba di Papua saatnya menikmati mine tour ke Grasberg dan Tembagapura.

 

Pekan Olahraga Nasional (PON) XX – 2021 yang berlangsung di Bumi Papua sudah usai. Selama di bumi cendrawasih kemana saja anda, sudahkah mengunjungi keindahan alam di ujung timur Indonesia itu? Ada banyak destinasi wisata nan indah dan elok sebagai karunia Allah SWT yang dalam lirik lagu “Aku Papua” disebut sebagai “Surga Kecil Jatuh ke Bumi.”

Apakah sudah menjejakkan kaki di Grasberg yang merupakan puncak destinasi tertinggi di Indonesia? “Sudah sampai di Papua tapi tidak berkunjung ke Grasberg, apa kata dunia?”

Perjalanan ke Papua tepatnya ke Timika dengan penerbangan dari bandara internasional Soekarno – Hatta, Jakarta butuh waktu sekitar lima jam. Pesawat lepas landas menjelang waktu tengah malam menggunakan maskapai Airfast. Penerbangan singgah dan bandara Hasanuddin, Makassar akan tiba di Bandar Udara Internasional Mozes Kilangin, Timika setelah matahari pagi menyapa bumi Papua,

Papua memang tanah yang indah terlihat dari jendela pesawat yang berputar untuk bersiap mendarat. “Selamat datang di bumi Papua.” Sambil menanti penerbangan selanjutnya, rehat sejenak menikmati aroma dan kehangatan kopi Papua di terminal bandara yang menggunakan nama pejuang asal Papua Mozes Abraham Kalmalan Kilangin Tenbak.

Bandara Mozes Kilangin adalah bandara internasional memiliki fasilitas yang modern dan lengkap. Dan untuk kopinya ada beragam jenis kopi Papua yang bisa dipilih. Ada kopi Pegunungan Bintang, kopi Amungme, kopi Moanemani dan kopi Baliem.

Mengutip Wikipedia, nama Mozes Kilangin diambil dari nama seorang guru pertama di suku Amungme. Suku ini mendiami dataran tinggi di Kabupaten Mimika, tepatnya di lembah Tsinga (sebelah Timur dari Tembagapura). Mozes Kilangin adalah seorang Amungme dijuluki Urumeki artinya guru besar. Ia orang pertama dari suku Amungme dan suku-suku di pegunungan tengah yang mengenyam pendidikan di Belanda, kemudian bekerja sebagai pejabat pemerintah.

Chopper di Heliport Aing Bugin

Perjalanan selanjutnya akan terbang di atas hutan rimba Papua menggunakan chopper menuju Tembagapura kota tambang “kota negeri di awan.” Ada dua pilihan ke sana, dengan perjalanan darat menggunakan bus atau terbang dengan chopper. Jika menggunakan bus butuh waktu sekitar dua sampai tiga jam untuk tiba di Tambagapura. Perjalanan dengan menggunakan chopper hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk tiba di Heliport Aing Bugin.

Chopper adalah sebutan masyarakat di Timika atau karyawan Freeport untuk alat transportasi jenis helikopter dengan kapasitas angkut lebih besar dari helikopter pada umumnya. Mampu membawa 30 orang berikut awak dan kru untuk satu kali penerbangan. Dalam ilmu sejarah, chopper adalah istilah yang dilekatkan atau nama kapak dari batu. Chopper di Papua adalah alat transportasi domestik paling mahal.

Mendarat di Heliport Aing Bugin yang terletak Mile 66 perjalanan dilanjutkan dengan bus “Western yang memiliki kaca jendela berlapis anti-peluru menuju menuju guest house di Tembagapura dengan waktu tempuh 15 menit guna beristirahat di tengah udara Tembagapura yang pagi itu sangat dingin. Guest house-nya memiliki fasilitas layak standar hotel berbintang.

Pekerja tambang PT Freeport Indonesia

Jika berkunjung ke sini atau Grasberg jangan lupa membawa perlengkapan jaket tebal untuk menghangatkan tubuh. Suhu di Tembagapura berkisar 5 – 20 derajat celcius. Di kota ini matahari kerap bersinar “malu-malu” karena selalu tertutup awan dan kabut serta hujan.

Kota Tembagapura berada pada ketinggian lebih dari 2.000 mdpl (meter di atas permukaan laut) memiliki topografi perbukitan yang cukup terjal maka tak heran jika jalanan berkelok-kelok dan bergelombang. Tembagapura adalah kota yang rapi dan teratur. Selain di Tembagapura yang terletak di Mile 68 yang menjadi tempat tinggal sebagian besar karyawan PT Freeport Indonesia, juga ada komplek perumahaan Hidden Valley atau Aing Bugin yang terletak sekitar tiga kilometer ke arah Selatan Tembagapura.

Setelah persiapan di Tembagapura, perjalanan dilanjutkan ke puncak destinasi wisata Indonesia di Grasberg. Kini saatnya menempuh perjalanan yang sensasional di atas rimba belantara Papua. Perjalanan ke puncak destinasi Indonesia yang berada pada ketinggian sekitar 4.285 mdpl. Mengingat pada ketinggian tersebut oksigen sangat tipis setiap pengunjung yang akan ke sana harus diperiksa tekanan darahnya terlebih dahulu.

Dari Tembagapura perjalan menggunakan bus sekitar 30 menit menuju lokasi yang disebut “Ridge Camp” atau Mile 74. Di sini menjadi tempat pusat pengendali tambang bawah tanah dan tempat tinggal bagi pekerja tambang Freeport Indonesia. Untuk mencapai lokasi tempat ini perjalanannya sangat berkesan karena harus melewati terowongan sepanjang 900 meter dan jalan berkelok -kelok pada ketinggian 2.400 mdpl.

Di Mile 74 moda transportasi harus berganti kali ini akan naik trem atau kereta gantung yang stasiunnya ada pada ketinggian sekitar 2.833,70 mdpl. Kereta gantung ini mampu mengangkut penumpang dan barang kapasitas 14,5 ton  dalam satu kali perjalanan. Para pekerja tambang menggunakan kereta gantung untuk mencapai tambang emas dan tembaga terbuka (open pit) Grasberg. Di dalam kereta gantung tidak ada tempat duduk, semuanya berdiri berpegangan pada tali gantungnya seperti dalam KRL Jabotabek  atau bus kota.

PT Freeport Indonesia (PTFI) memiliki dua kereta gantung. Kereta gantung yang digerakan dengan energi listrik ini menggantung pada kabel dengan panjang lintasan 1.660 meter. Mengingat vitalnya keberadaannya, kereta gantung ini selalu mendapat perawatan rutin verifikasi keamanan dan layak operasi langsung dari vendor yang berasal dari Swiss. Juga harus mendapat izin operasional dari pemerintah. Juga setiap pekan dilakukan cek rutin lintasan.

Di dalam kereta gantung ada dua orang karyawan PTFI yang mengoperasikannya dan berkomunikasi dengan operator jika terjadi kendala. Kenyamanan dan keselamatan penumpang kereta gantung sangat menjadi perhatian perusahaan tambang yang kini 51 sahamnya milik Pemerintah Indonesia. Jika terjadi pemadaman listrik atau kerusakan disiapkan generator cadangan dengan kereta penyelamat. Kereta gantung saat hujan turun tetap beroperasi dan berhenti beroperasi jika kecepatan angin mencapai 12 m/s.

Kereta gantung bergerak naik dengan perlahan dengan kecepatan berksiar 7,5 – 9 meter/ detik. Dari ketinggian dengan pemandangan lepas terbuka jika cuaca cerah ke arah bawah bisa melihat kolam bundar penampungan air konsentrat di terminal Mile 74. Karyawan PTFI menyebutkan “Bundaran HI-nya Tembagapura. Obyek ini selalu menjadi bidikan kamera para pengunjung Grasberg.

 

“Kolam Bundaran HI” Tembagapura

Perjalanan dengan kereta gantung ini mengingatkan perjalanan ke Mount Titlis di Swiss yang tingginya hanya 3.020 mdpl. Jika di Swiss untuk mencapai puncaknyanya yang bersuhu 0 derajat celcius harus berganti dua kali kereta gantung.

Setelah bergantungan di atas kereta gantung sekitar 20 menit tibalah di terminal EB. Dari sini perjalanan menggunakan busa dilanjutkan menggunakan bus ke area bibir tambang terbuka Grasberg yang disebut Overlook Bunaken yang berada pada ketinggian 4.230 mdpl. Selama dalam perjalan akan berselisih jalan dengan truk-truk tambang berukuran raksasa atau big jumbo.

Setiba di Overlook Bunaken jika bernasib baik dan cuaca cerah maka dikejauhan akan terlihat salju abadi Puncak Jaya Wijaya pada puncuk tertinggi Pegunungan Tengah. Itulah salju yang ada di wilayah khatulistiwa dengan warna putihnya menyapa langit yang berwarna biru.

Juga terlihat tambang terbuka Ertsberg yang merupakan tambang pertama dikelola PTFI pada awal tahun 70-an. Erstberg (atau Gunung Bijih) yang ditemukan Jean-Jacques Dozy seorang geolog Belanda tahun 1936.

Terlintas pertanyaan, “Bagaimana kendaraan dan alat berat tersebut bisa sampai ke puncak Grasberg yang tinggi lebih dari 4.000 mdpl?” Jawabannya, ternyata kendaraan besar tersebut di bawah ke atas bukan dalam kesatuan utuh melainkan terpisah-pisah baru setelah tiba di atas dirangkai menjadi satu unit kendaraan utuh.

Ada dua kendaraan raksasa tersebut yang kini terpajang sebagai museum terbuka yang menjadi saksi dari kejayaan tambang terbuka Grasberg, yaitu truk tambang Caterpillar 797 dan Shovel Bucyrus.

Dari Overlook Bunaken pada ketinggian lebih dari 4.000 mdpl tersebut dengan suhu di luar ruangan berkisar 8 – 10 derajat celcius bisa melihat operasional tambang terbuka Grasberg Mine di area berbentuk cekungan seperti kuali dengan diameter 4 kilometer dan kedalaman vertikal ke bawah tanah 1 kilometer dan dikeliling jalan yang menempel ke dindingnya membentuk seperti spiral. Grasberg adalah tambang terbuka terbesar di dunia. Kini PTFI sudah tidak lagi mengoperasikan tambang tersebut.

Grasberg adalah destinasi wisata Indonesia yang tertinggi, terindah dan penuh sensasi untuk mencapainya. Ada pesona Indonesia di Indonesia yang diukir dari keelokan bumi Papua.  Jika sudah tiba di Papua saatnya menikmati mine tour ke Grasberg dan Tembagapura.

Setelah puas berada di Grasberg dan bermalam di Tembagapura maka perjalanan di bumi Papua saat kembali tiba di Timika dari Tembagapura maka perjalanan dilengkapi dengan berkunjung ke Institut Pertambangan Nemangkawi, lingkungan dan budaya seperti bertemu Suku Kamoro, suku asli di kawasan Freeport dan menanam pohon di area reklamasi Pusat Reklamasi dan Keanekaragamanhayati MP21.

Jadi sudah sampaikah anda ke Grasberg? Pada saat PON XX-2021 Papua ada biro perjalanan wisata yang menawarkan paket wisata di Kabupaten Timika selama tiga hari dengan destinasi Kuala Kencana, Hidden Valley, Tembagapura dan Tambang Grasberg. Sayang sekali sudah tiba di Papua tapi tidak berkunjung ke Grasberg. ∎

Editor : Maspril Aries

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button