LifeStyle

Dua Srikandi di Puncak Bukit Asam

Oleh : Maspril Aries
Wartawan Utama/ Penggiat Kaki Bukit Literasi

Pada 2021 di tengah pandemi Covid-19 melanda bumi, PT Bukit Asam (PTBA) Tbk menorehkan sejarah baru dalam perjalanannya sebagai sebuah korporasi besar di Indonesia. Perusahaan tambang batu bara yang berkantor pusat di Tanjung Enim, Sumatera Selatan (Sumsel) untuk pertama kalinya sejak perseroan berdiri memiliki personil perempuan di jajaran direksi.

Pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bukit Asam (PTBA) Tbk tahun buku 2020 yang berlangsung Senin (5/4) memutuskan perombakan jajaran direksi pada perusahaan plat merah tersebut.

PTBA : Direktur Utama PTBA Tbk Suryo Eko Hadianto. FOTO – Humas PTBA

Pemerintah Indonesia sebagai pemegang saham mayoritas melalui Menteri BUMN Erick Thohir merombak total jajaran direksi BUMN tambang batu bara tersebut dan mengubah nomenlaktur jabatan direksi. Dari lima direksi lama hanya satu yang dipertahankan.

Menteri BUMN menunjuk Suryo Eko Hadianto sebagai Direktur Utama PTBA Tbk menggantikan Arviyan Arifin. Juga tiga orang direksi baru lainnya, Dwi Fatan Lilyana sebagai Direktur Sumber Daya Manusia (SDM), Farida Thamrin sebagai Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko dan Suhedi sebagai Direktur Operasi dan Produksi. Ada dua srikandi atau perempuan dalam jajaran direksi baru tersebut.

Dalam jumpa pers yang berlangsung secara virtual usai RUPST, dua direksi perempuan tersebut secara resmi diumumkan ke publik, yaitu Dwi Fatan Lilyana sebagai Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) yang sebelumnya menjabat SVP Human Capital Policy MIND ID dan Farida Thamrin sebagai Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko yang sebelumnya menjabat Group Head Corporate Solution PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Dua perempuan tersebut menjadi srikandi pertama yang ada dalam jajaran direksi pada BUMN batu bara terbesar di Indonesia sejak PTBA tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai perusahaan publik tahun 2002.

Dua perempuan di jajaran direksi PTBA kali ini adalah perempuan yang perjalanan karirnya cukup beragam. Mengutip webiste linkendin.com, Direktur SDM Dwi Fatan Lilyana tercatat perjalanan karirnya cukup beragam, sebelum bergabung di MIND ID sempat menjadi bagian dari BUMN pupuk PT Pupuk Indonesia (Persero) selama dua tahun lima bulan dengan jabatan VP Learning Development dan VP Corporate Program.

Dwi Fatan Lilyana yang lulus dari Universitas Indonesia tahun 2000 karirnya justru bermula di lingkungan pertelevisian bergabung dengan PT Transformasi Televisi Indonesia atau Trans TV dengan jabatan sebagai Associate Producer, Assignment Editor, Reporter/Presenter dan sempat menjadi presenter pada acara “Kupas Tuntas.”

Dari Trans TV Dwi Fatan Lilyana kemudian bergabung dengan perusahaan tambang PT Indika Energy Tbk setelah sebelumnya berkarir di UNHCR Representation Office in Indonesia, Jiwa Creation dan sebagai Communication Officer di Unicef.

Lihat Juga  Kerajaan Sriwijaya dalam Pusaran 4 F

Sementara Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Farida Thamrin walau lulusan dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia, namun perjalanan karirnya lebih komplet pada sektor keuangan dan perbankan. Tahun 2019 ditunjuk sebagai Komisaris PT Mandiri Sekuritas (Mandiri Sekuritas).

Sebelumnya, perempuan kelahiran Jakarta pada tanggal 27 Oktober 1972, mngawali karir PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sejak 1999 dengan berbagai jabatan yang pernah dipegangnya, sebagai Professional Staff Forex Trading, Economic and Financial Research and Credit Operation kemudian menjabat  Chief Dealer Marketing Trading (2007-2010), Chief Dealer FX Emerging Currency (2010-2012), VP Forex Trading (2012-2014), SVP Market Risk (2015-2016) dan GH Corporate Banking Solution.

Selain dua direksi perempuan tersebut, pada jajaran direksi kali ini juga ada wajah baru yaitu Suhedi. Pria kelahiran Baturaja, 8 Februari 1964 yang seluruh karirnya di PTBA ditetapkan sebagai Direktur Operasi dan Produksi. Suhedi sebelumnya menjabat sebagai General Manager Pertambangan Unit Tanjung Enim.

Dua direksi perempuan tersebut akan mendampingi Direktur Utama Suryo Eko Hadianto, bersama dua direksi lainnya Suhedi Direktur Operasi dan Produksi serta Fuad Iskandar Zulkarnain Fachroeddin Direktur Pengembangan Usaha untuk mewujudkan PTBA Emas yang dulu pernah dicanangkan yaitu produksi batu bara mencapai 50 juta ton yang pada saat ini produksinya baru sekitar 30 juta ton pertahun.

Tanpa Perempuan

Sejak PTBA tercatat di BEI pada 2002 sudah ada tercatat lima direktur utama yang semuanya pria dan selama itu pula sejak periode pertama sebagai perusahaan publik telah beberapa kali terjadi pergantian jajaran direksi, tidak ada satu perempuan pun tercatat dalam daftar jajaran direksi. Pada masa Direktur Utama Ismet Harmaini, seluruh anggota direksi dominasi pria terdiri dari Direktur Keuangan Abdul Aziz Nazori, Direktur Produksi Sukrisno, Direktur Teknik AC Purba dan Direktur SDM Mahbub Djunaidi.

Kemudian jabatan Direktur Utama beralih ke Sukrisno yang ditunjuk dalam RUPS 2006, kembali jajaran direksi diisi pria atau laki-laki. Walau terjadi penambahan anggota direksi PTBA dari lima menjadi enam orang. Lima direksi lainnya pada periode ini adalah Dono Boestami sebagai Direktur Keuangan, Direktur Produksi Milawarma, Direktur Pengembangan Usaha Heri Supriyanto, Direktur Niaga Tiendas Mangeka dan Direktur SDM tetap dijabat Mahbub Iskandar.

Lihat Juga  PTBA Unit Dermaga Kertapati Bagi Sembako dan Internet Gratis

Pada RUPS 2010, Milawarma yang menjabat Direktur Produksi mendapat promosi, ditunjuk pemegang saham sebagai Direktur Utama PTBA yang baru. Lagi-lagi di bawah kepemimpinan Milawarma tidak ada perempuan dalam jajaran direksinya yang berjumlah enam orang. Lima anggota direksi lainnya adalah Direktur Keuangan Achmad Sudarto, Anung Dri Prasetya sebagai Direktur Pengembangan Usaha, Heri Supriyanto sebagai Direktur Operasi/ Produksi, Maizal Gazali sebagai Direktur SDM & Umum dan M. Jamil sebagai Direktur Niaga. Jajaran “kabinet” Milawarma ini seluruhnya berasal dari mulai berkarir dalam lingkungan PTBA.

Pada 2016 pucuk pimpinan tertinggi PTBA beralih dari Milawarma kepada Direktur Utama Arviyan Arifin. Lagi-lagi RUPS pada saat itu menetapkan jajaran direksi seluruhnya laki-laki. Arviyan Arifin didampingi Direktur Keuangan Achmad Sudarto, Joko Pramono sebagai Direktur Operasi/Produksi, Suryo Eko Hadianto Direktur Pengembangan Usaha, Arie Prabowo Ariotedjo Direktur Niaga, dan Anung Dri Prasetya sebagai Direktur SDM.

Pada masa kepemimpinan Arviyan Arifin ada RUPS yang menetapkan pergantian jajaran direksi dengan komposisi juga laki-laki. Direktur Keuangan berganti dari Achmad Sudarto kepada Orias Petrus Moedak, Fuad Iskandar Zulkarnain Fachroeddin sebagai Direktur Pengembangan Usaha,  Adib Ubaidillah sebagai Direktur Niaga, Suryo Eko Hadianto sebagai Direktur Operasi dan produksi; dan Joko Pramono sebagai Direktur SDM dan Umum.

Kemudian pada 2018 terjadi perubahan komposisi direksi. Direktur Keuangan Orias Petrus Moedak yang diangkat menjadi Direktur Keuangan PT Inalum (Persero) induk dari Holding Industri Pertambangan digantikan Mega Satria.

Dalam RUPS 2020 kembali terjadi perubahan jajaran direksi. Hadis Surya Palapa yang sebelumnya Sekretaris Perusahaan mendapat promosi menjadi Direktur Operasi dan Produksi PTBA menggantikan Suryo Eko Hadianto yang ditunjuk menjabat Direktur Transformasi dan Pengembangan Usaha MIND ID.

Pada RUPS 2021, Menteri BUMN mengembalikan Suryo Eko Hadianto ke perusahaan pertama tempatnya berkarir PTBA dengan jabatan puncak sebagai Direktur Utama. Di bawah kepemimpinan pria kelahiran Sleman, 22 April 1966 jajaran direksi PTBA pun berubah, ada dua srikandi Indonesia di puncak pimpinan BUMN tambang batu bara PT Bukit Asam Tbk.

Editor : MA

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close