Bisnis

Sentuhan Bukit Asam untuk Kopi Arabica Semende

EkbisNews.com, Muara Enim – Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) itu bukan daerah penghasil kopi jenis Arabica di Indonesia. Sumsel itu daerah penghasil kopi terbesar di Indonesia, jenis kopi Sumsel adalah kopi Robusta.

Kata siapa tidak ada produksi kopi Arabica di Sumsel? Jawabannya ada pada “Statistik Perkebunan Indonesia 2018 – 2020” yang diterbitkan Direktorat Jendral Perkebunan, Kementerian Pertanian, Desember 2019.

Provinsi Sumsel sebagai produsen kopi terbesar di Indonesia, adalah benar adanya. Dari data dari Direktorat Jendral (Ditjen) Perkebunan tercatat Provinsi Sumatera Selatan merupakan provinsi dengan areal perkebunan rakyat (PR) terluas di Indonesia yaitu 251,03 ribu hektar atau 20,04 persen dari total luas kopi nasional.

Dengan luas areal perkebunan kopi rakyat terluas, Sumsel juga menjadi produsen kopi dari produksi PR kopi pada Tahun 2018 mencapai 193,507 ton atau sekitar 25,59 persen dari total produksi kopi nasional.

Sumber : Direktorat Jendral Perkebunan, Kementerian Pertanian

Sebagai produsen kopi terbesar di Indonesia, kopi yang diproduksi dari Sumsel adalah jenis kopi Robusta. Dalam “Statistik Perkebunan Indonesia 2018 – 2020” ternyata tidak tercatat adanya produksi kopi Arabica. Luas perkebunan kopi di Sumsel yang seluruhnya PR pada 2018 luasnya tercatat 251.027 Ha dengan produksi 193.507 ton. Dari catatan Ditjen Perkebunan sampai 2019 tidak ada data produksi jenis kopi Arabica dari Sumsel.

Walau tidak tercatat dalam data statistik Ditjen Perkebunan bukan berarti tidak ada produksi kopi jenis Arabica dari Sumsel. Berada di dataran tinggi dengan udara yang sejuk tepatnya di Kecamatan Semende, Kabupaten Muara Enim ada sekelompok petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (Koptan) Ruang Napalan para anggotanya menanam kopi jenis Arabica.

Kopi Arabica di Semende tumbuh di atas lahan dengan ketinggian berkisar 1.200 meter sampai 1.400 dari permukaan laut di kawasan deretan Pegunungan Bukit Barisan. Pekan lalu, 20 Maret 2021 tim CSR (Corporate Social Responsibility)dan Humas PT Bukit Asam (PTBA) Tbk melihat langsung areal perkebunan kopi Arabica Koptan Ruang Napalan.

Mulstan Ketua Koptan Ruang Napalan yang menyambut tim dari BUMN batu bara tersebut mengatakan, “Petani di sini awalnya lebih banyak menanam kopi jenis Robusta. Pohon kopi di sini tumbuh dengan subur, di Semende tanah cocok untuk tanaman kopi. Petani banyak menanam kopi jenis Robusta karena tidak tahu potensi dan kualitas jenis kopi Arabica.”

Lihat Juga  61 Tahun Pusri Luncurkan Rumah BUMN untuk UMKM

Para petani mulai ada yang mencoba bertanam kopi jenis Arabica. Menurut Mulstan, para petani di Desa Gunung Agung Kecamatan Semende Darat Tengah (SDT) mulai melakukan budidaya, pengolahan dan pengemasan kopi jenis Arabica secara otodidak dan belajar dari pengalaman.

Sampai kemudian datang tim CSR PTBukit Asam Tbk (PTBA) pada 2013 yang memberikan penyuluhan dan bimbingan berkebun kopi Arabica. Sejak saat itu menurut Multan, para petani di Semende mulai yakin kopi Arabica bisa memberikan nilai tambah bagi para petani untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Apa lagi pada 2019, PTBA memberangkatkan Mulstan bersama beberapa petani lainnya ke Kabupaten Bandung, Jawa Barat tepatnya ke Kecamatan Pengalengan untuk menimba ilmu bertanam kopi Arabica di sana. Para petani kopi dari Koptan Ruang Napalan kemudian kembali ke desanya dengan membawa ilmu bertanam kopi yang ditandai dengan sertifikat Pelatihan Budidaya Tanaman Kopi dan sertifikat Pelatihan Roasting Kopi dari Coffetography.

Senyum manis dan sapaan yang ramah, selamat datang keluar dari bibir para anggota Koptan Ruang Napalan saat menyambut kedatangan Tim CSR dan Humas PTBA.

Menurut Mulstan setelah kembali dari menimba ilmu dari ahli kopi internasional, ternyata tidak semua ilmu yang mereka dapat bisa diterapkan karena adanya hambatan dari para petani kopi Semende. Kendala yang dirasa sulit adalah mengubah pola pikir dan cara masyarakat di sana dalam mengolah dan menangani tanaman kopi.

Mulstan mengakui, mereka harus dengan sabar untuk mengajak masyarakat petani kopi dalam merubah mindset mereka dari pola pikir petani kopi tradisional menjadi petani kopi yang profesional. Para penggiat kopi yang tergabung dalam Koptan Ruang Napalan  memiliki petani binaan yang berada di Pelakat, Segamit, dan Cahaya Alam.

Namun usaha mengubah pola pikir petani tersebut lambat laun mulai berhasil, para petani kopi mulai bisa menerima pola bertani kopi yang baru dengan jenis kopi Arabica. “Semuanya proses itu tidak bisa dilakukan perorangan harus kelompok, pemilihan bibit kopi, pola tanam dengan media pasir, polybag, bahkan dengan cara zig – zag, panen pun harus petik merah, penjemuran hanya boleh dilantai, prosessing standar internasional dan packaging atau pengemasan kopi pun tidak boleh asal-asalan ada caranya,” ujar Mulstan.

Lihat Juga  Gakkum Kementerian LHK Tangkap Pelaku “Illegal Logging” di OKI

Kini kopi Arabica yang dihasilkan Koptan Ruang Napalan sudah bisa diserap pasar kopi lokal, diantarany di lingkungan PTBA dan pasar regional diantaranya dijual ke Sumatera Utara yang jadi pasar utama kopi Arabica Semende. Ke depan peningkatan produksi terus dilakukan karena pasar masih banyak membutuhkan kopi jenis Arabica.

Ternyata kopi Semende jenis Arabica tidak kalah kelasnya dengan jenis kopi lainnya dan memiliki harga lebih mahal dari kopi jenis Robusta. Data Ditjen Perkebunan pada 2018 dan 2019 mencatat harga kopi jenis Arabica di pasar kopi dunia mencapai 3,06 dolar Amerika Serikat (AS) perkilogram, sementara kopi Robusta tertinggi hanya 1,97 dolar AS perkilogram.

Selain itu data Pusat Penelitian Kopi di Jember Jawa Timur, menyatakan varian Arabica dari kopi Semende memiliki nilai skor tidak jauh beda dari daerah lain. Bahkan bisa diadu dari citra rasa serta sudah bersertifikat dari Kementerian Pertanian.

Di tengah pandemi Covid, menurut Mulstan, “Insya Allah di lahan 2,5 hektar pada Mei 2021 ini, kita bisa panen petik merah.”

Menuruit Listati dari Tim CSR PTBA, dukungan dari BUMN tambang batu bara yang berpusat di Tanjung Enim, melalui CSR kepada petani kopi di Semende berawal tahun 2013 para petani telah menikmati hasilnya. Selain itu di daerah ini PTBA membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Pelakat dan Rumah Kopi Pelakat.

“Peran PTBA ini juga ikut membantu program Pemerintah Kabupaten Muaa Enim memajukan kopi Semende hingga kopi Semende masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia 2020,” kata Listiati.

Kini dan ke depan, dari Sumsel kelak akan tercatat ada produksi jenis kopi Arabica yang dihasilkan para petani kopi dari kawasan dataran tinggi Semende dengan produksinya kopi Arabica Semende. Berkat sentuhan Bukit Asam kini aroma kopi Arabica Semende bisa tercium di Nusantara.

“Kami para petani yang tergabung dalam Koptan Ruang Napalan dan para petani kopi di Semende mengucapkan terima kasih atas bantuan dan bimbingan dari tim PTBA dan Pemerintah Kabupaten Muara Enim sehingga kini bisa menghasilkan produk kopi Arabica dari Semende,” kata Mulstan dengan senyum menghias bibirnya.

Editor : Maspril Aries

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close