LifeStyle

Sebuah Buku tentang Trilogi Isu Politik Kontemporer

Oleh : Maspril Aries
Wartawan Utama/ Penggiat Kaki Bukit

Buku ini cukup informatif karena berisi informasi yang beragam, kaya referensi, tidak kering dan gaya tulisannya mengalir sehingga mudah dipahami dan dimengerti pembaca.

Pertengahan November lalu di tengah pandemi melanda bumi, saya dihubungi  Dr Ari Darmastuti Ketua Jurusan Hubungan Internasional Fisip Universitas Lampung (Unila). Ari Darmastuti yang pernah mengenyam pendidikan Strata Dua (S2) Political Science  di Iowa State University Amerika Serikat (AS), meminta menjadi pengulas bukunya yang baru saja terbit. Bagi saya ini sebuah kehormatan terhadap saya yang pernah menjadi salah seorang mahasiswanya.

Buku barunya tersebut berjudul “Partai Politik, Pemilihan Umum, dan Peran Perempuan dalam Politik dan Pembangunan” terbit November 2020. Setelah berusaha membaca bukunya yang cukup tebal sampai 323 halaman, kesimpulan umum yang saya tarik, buku ini adalah sebuah trilogi isu politik kontemporer di Indonesia.

Kalau pada zaman dulu buku seperti ini sering disebut bungai rampai. Trilogi isu yang terangkum dalam buku yang ditulis seorang dosen yang pernah menjabat Ketua Program Studi Magister Ilmu Pemerintahan adalah “Partai Politik, Pemilihan Umum dan Perempuan.”

Untuk mengulas buku ini, ada dua bagian yang akan menjadi bahasan. Pertama, tentang buku dan penerbitan. Kedua, tentang isi atau topik dari buku “Partai Politik, Pemilihan Umum, dan Peran Perempuan dalam Politik dan Pembangunan.”

Di dunia penerbitan atau dunia perbukuan menurut AR Hermansyah dalam buku “60 Hari Menerbitkan Buku Mandiri” dikenal ada tiga jenis penerbit buku, yaitu self publishing, penerbit indie dan penerbit mayor. Self publishing adalah  seseorang menerbitkan bukunya tanpa melalui penerbit formal. Hanya menampilkan nama penerbit (logo, kontak dan alamat) di dalam buku, agar memiliki landasan legal untuk terbit.

Penerbit Indie merupakan penerbit resmi yang terdaftar di Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Penerbit Indie sistem dan aturannya tidak seketat penerbit mayor. Indie kependekan dari independen: merdeka dan bebas dalam penerbitannya. Penerbit indie bisa menerbitkan dan mencetak buku sesuai keinginan penulis.

Penerbit Mayor adalah penerbit resmi yang terdaftar di Perpusnas dengan sistem dan aturan yang ketat dalam memilih naskah yang akan mereka terbitkan. Penerbit mayor biasanya memilih naskah yang cocok dengan visi dan misi penerbit dan memiliki nilai jual. Penerbit mayor akan mendanai semua proses buku yang mereka terbitkan : biaya editor, layout, desain sampul, proofreader, pencetakan, distribusi, royalti penulis, diskon distributor dan pengecer, dan lain sebagainya.

Menurut Hermawan Sulistyo dalam kata pengantar buku berjudul “Bungai Rampai Penerbitan dan Pembangunan”  karya Philip G Albatch dan Damtew Teferra, pada masyarakat maju mengenal tiga jenis penerbitan. Pertama, penerbit komersial  yang biasa disebut trade publisher atau commercial publisher.  Kedua, penerbit unversitas (university press) yang filosofinya berbeda dengan trade publisher.  Di negara maju university press  diproteksi oleh pemerintah, seperti mengenakan pajak yang rendah atau dibebaskan sama sekali dari pajak.

Ketiga adalah jenis penerbitan vanity press.  Penerbitan jenis ini yang biasa disebut juga subsidy publisher  yaitu penerbit yang menerbitkan buku dengan biaya produksi dibebankan kepada penulis. Seorang penulis yang menyerahkan naskahnya ke suatu vanity press harus membayar “subsidi” penerbitan bukunya.

Lihat Juga  5 Fakta Semangka yang Tidak Banyak Diketahui Orang

Di Indonesia menurut Hermawan Sulistyo tidak mengenal vanity press, karena trade publisher selalu berusaha mendapatkan subsidi penerbitan dari penulisnya. Contohnya pada buku-buku biografi, banyak orang kaya, pejabat dan orang top di Indonesia yang memilih memberikan subsidi penerbitan pada penerbit umum untuk menerbitkan buku biografinya.

Untuk menerbitkan sebuah buku yang utama dibutuhkan adalah naskah. Punya mesin cetak jika tidak ada naskah tidak akan terbit sebuah buku, mungkin hanya mencetak kop surat, amplop atau undangan pesta perkawinan.

Dari mana naskah itu berasal? Ada beragam sumber naskah dari sebuah buku. Salah satu sumber naskah adalah perguruan tinggi. Di perguruan tinggi atau kampus adalah ceruk untuk naskah buku yang bisa diterbitkan penerbit self publishing, penerbit indie atau penerbit mayor. Namun tidak semua naskah seperti skripsi, tesis, disertasi, makalah atau hasil penelitian bisa terbit menjadi sebuah buku yang disajikan dengan bahasa yang populer, bukan bahasa ilmiah yang membacanya membuat kening berkerut.

Naskah yang berasal dari perguruan tinggi untuk bisa menjadi sebuah buku yang populer atau bukan buku teks membutuhkan kehadiran editor buku yang bisa mengolah naskah tersebut menjadi sebuah buku yang bisa dinikmati dan dibaca semua kalangan, dari masyarakat awam sampai akademisi.

Untuk jenis naskah di lingkungan penerbit membaginya dalam beberapa jenis, seperti naskah jenis sain dan teknologi, naskah sosial dan humaniora, naskah jenis kesehatan dan kedokteran, serta naskah jenis agro dan fauna.

Isi Buku

Ulasan tentang isi buku, ada banyak isu politik yang tersaji. Isu politik tersebut dari permasalahan politik yang terjadi pada masa Orde Baru sampai yang terjadi saat ini. Isu politik tersebut terjadi di Indonesia dan juga di luar Indonesia, termasuk isu politik lokal tempat penulis berdomisili, yakni Provini Lampung.

Isu atau permasalahan politik yang mencuat adalah dalam buku ini diantaranya seputar pemilu dan permasalahannya, pilkada, otonomi daerah, parlement treshold (PT), kecurangan, perempuan dan partisipasinya serta keterwakilan perempuan dalam ranah politik, isu lokal yang terjadi di Provinsi Lampung dengan berbagai aroma politiknya.

Buku ini cukup informatif karena berisi informasi yang beragam, kaya referensi, tidak kering dan gaya tulisannya mengalir sehingga mudah dipahami dan dimengerti pembaca. Seperti dalam kata pengantar, penulisannya menyatakan, “Bahasa yang saya pergunakan dalam penulisan artikel-artIkel yang ikut diterbitkan dalam buku ini terlihat jelas merupakan bahasa ilmiah populer dan tidak sepenuhnya bahasa yang secara akademik baik dan benar, konon lagi Bahasa Indonesia baku.”

Buku “Partai Politik, Pemilihan Umum, dan Peran Perempuan dalam Politik dan Pembangunan”  bukanlah sebuah buku teks, hadir dengan bahasa ilmiah populer memang harus demikian jika buku ini bisa dibaca dan diterima di semua lapisan pembaca buku.

Lihat Juga  Ingin Sehat Dimasa Tua Cukup Lakukan Satu Hal ini Saja

Sebagai buku yang informatif, buku ini menunjukan wawasan dan intelektual yang luas dari penulisnya. Buku yang ditulis seorang pakar yang ahli di bidangnya, kerap diburu konsumen atau mereka para pembaca buku karena mereka menulis sesuai dengan bidang atau keahliannya.

Terbaca jelas, Ari Darmastuti menulis buku ini dengan memadukan kombinasi teori dalam kapasitas penulis sebagai akademisi dan seorang praktisi yang menerapkan ilmu atau teori yang dipelajarinya. Pada halaman 40 – 41, penulis yang seorang akademisi berperan menjadi bagian dari praktisi pemerintahan atau politik dengan jabatan tenaga ahli Pemprov Lampung, yang harus berdebat mempertahankan argumentasinya tentang jadwal pemilihan Gubernur Lampung pada 2014. Walau sebagai tenaga ahli Pemprov Lampung namun pijakan pendapatnya tetap berdasarkan argumentasi seorang akademisi.

Buku ini juga banyak memberi pesan kepada kita semua, khususnya politisi dan birokrat. Saya tertarik dengan satu pesan yang tertulis pada halaman 70 – 71. Isinya : “Marilah secara konsisten kita memberi pelajaran kepada para politisi dengan secara terus menerus hanya memilih partai yang jelas dasar keberadaannya, yang bukan sekedar ”bertualang.”

Ke depan, jika buku ini terbit dengan edisi berikutnya, ada beberapa catatan yang menjadi perhatian bagi penulis dan editor buku. Buku ini perlu dilengkapi dengan daftar indeks dan sumber naskah. Ada naskah yang berasal dari tulisan lepas baik berupa opini di media massa atau makalah dari sebuah seminar. Ini akan sangat membantu pembaca atau mereka yang menjadikan buku ini sebagai referensi sehingga, bisa mengetahui kronologis waktu dari peristiwa politik atau masalah sosial yang terjadi.

Buku “Partai Politik, Pemilihan Umum, dan Peran Perempuan dalam Politik dan Pembangunan”  telah hadir sebagai sarana utama untuk komunikasi pengetahuan. Di tengah kehadiran buku digital atau e-book  dengan mengutip Philip G Albatch, buku merupakan suatu yang sentral dalam memberikan informasi, hiburan, analisis, dan pendidikan bagi jutaan orang di seluruh dunia.

Kepada Dr Ari Darmastuti sebagai seorang penulis buku, saya menyampaikan apresiasi dengan mengutip dari Pramoedya AT, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Juga dari Bill Gates pendiri Microsoft, “Jika budaya anda tidak menyukai orang-orang kutu buku, anda berada pada masalah yang serius.” Bahkan seorang Moh. Hatta Wakil Presiden pertama Republik Indonesia berani menyatakan, “Aku rela dipenjara bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

Buku yang membahas trilogi isu politik kontemporer di Indonesia, adalah cermin dari apa yang terjadi di Indonesia dulu dan sekarang, juga yang akan datang. Menurut penulis JK Rowling, “Buku itu seperti cermin : kalau yang berkaca padanya adalah seorang yang bodoh, engkau tak bisa berharap yang terpantul adalah seorang yang jenius.”

Selamat membaca bukunya.

Editor : MA

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close