Energi

Medco dan Energi Terbarukan Panas Bumi

“Konsumen akan mengambil energi berupa listrik. Ini adalah pilar yang sangat penting bagi Medco Energi.”

EkbisNews.com, Jakarta — Sembilan tahun lalu Al Gore mantan Wakil Presiden Amerika Serikat tiba di Jakarta. Penerima hadiah Nobel Perdamaian 2007 tersebut datang untuk berpidato pada acara“The Climate Project Asia Pacific Summit”  yang berlangsung 9 Januari 2011.

Dalam pidatonya saat itu Al Gore memprediksi, Indonesia bisa menjadi negara adidaya atau super power penggunaan energi panas bumi atau geothermal sebagai sumber tenaga listrik. “Indonesia bisa menjadi negara super power untuk energi listrik dari panas bumi dan hal itu bisa menjadi kelebihan untuk ekonomi Indonesia,” katanya.

Menurut peraih Piala Oscar melalui film dokumenter “An Inconvenient Truth,” Indonesia adalah negara peringkat tiga terbesar yang memproduksi energi listrik dari pembangkit tenaga panas bumi di bawah Filipina yang saat itu negara terbesar kedua di dunia sebagai produsen listrik panas bumi.

Pernyataan Al Gore tersebut adalah tantangan sekaligus kenyataan yang harus diwujudkan Indonesia. Ternyata data Al Gore tersebut sudah kedaluwarsa, laman Instagram Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) @djebtke mempublikasikan, posisi panas bumi Indonesia saat ini berada pada peringkat pertama di Asia dan peringkat dua di dunia.

Ini menjadi bukti keseriusan Indonesia dalam mengembangkan energi terbarukan yaitu panas bumi dengan kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Indonesia sebesar 2,1 GW.

Indonesia berhasil menggeser Filipina ke peringkat tiga di dunia. Targetnya tentu ingin Indonesia menjadi nomor satu dunia. Menjadikan panas bumi Indonesia berada pada peringkat pertama sebagai produsen panas bumi di dunia bukan suatu hal yang mustahil.

Pernyataan Al Gore tersebut meyakinkan stakeholder  migas dan energi bahwa betapa besarnya potensi panas bumi di Indonesia yang akan menjadi  energi masa depan, energi alternatif yang ramah lingkungan. Indonesia memiliki 40 persen potensi panas bumi dunia, namun kapasitas yang terpasang untuk memanfaatkan panas bumi itu baru empat persen dari potensi yang ada.

Menurut data US Departement Energy tahun 2005, di dunia energi geothermal memiliki cadangan yang cukup besar. Jumlah cadangan di seluruh dunia sektar 50.000 kali lebih banyak dari energi fosil. Kini energi panas bumi menjadi perhatian dunia di tengah munculnya isu-isu pemanasan global, polusi dan mahalnya harga bahan bakar minyak dan gas bumi.

Kapasitas terpasang energi panas bumi di dunia saat ini, pada peringkat pertama adalah Amerika Serikat dengan kapasitas 3.639 MW, Indonesia 2004,5 MW, Filipina 1.868 MW, Turki 1.347MW, Selandia baru 1.005 MW, Mexico 951 MW, Itali 944 MW, Islandia 755 MW, Kenya 676 MW, Jepang 542 MW, dan negara-negara lainnya 925 MW.

Dalam buku “Potensi Panas Bumi Indonesia” (2017) menyebutkan, Indonesia adalah negara yang dikaruniai potensi sumber daya energi yang begitu besar dan beraneka ragam. Bukan hanya energi fosil, potensi energi terbarukan juga tersebar di seluruh wilayah Indonesia diantaranya yaitu energi panas bumi. Potensi panas bumi di Indonesia termasuk yang terbesar di dunia dengan potensi sumber daya sebesar 11.073 MW dan cadangan sebesar 17.506 MW.

Saat ini pengembangan energi terbarukan di tanah air menjadi suatu keharusan sebagaimana tertuang di dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional. Energi terbarukan yang saat ini baru mencapai 7,7 persen dari total bauran energi nasional ditargetkan akan berkontribusi menjadi sebesar 23 persen atau setara 45 GW pada tahun 2025 dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat pelanggan listrik.

Lihat Juga  Hilmi Panigoro : Vaksin Tiba Ekonomi “Rebound”

Ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil sebagai sumber energi masih relatif tinggi, lebih dari 90 persen penggunaan energi nasional. Energi fosil sebagai energi yang tidak terbarukan cadangannya pun terus semakin menipis. Solusi mengatasi kebutuhan energi yang terus meningkatk setiap tahunnya yang mencapai 6 – 7 persen maka pemerintah perlu mencari energi alternatif dengan mengembangkan energi baru dan terbarukan.

Salah satu perusahaan energi yang fokus pada pengembangan energi terbarukan adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Medco Energi yang tahun 2020 berusia 40 tahun menjawab tantangan tersebut. Salah satu anak perusahannya PT Medco Power Indonesia (MPI) adalah salah satu perusahaan di sektor energi kelistrikan yang siap dan telah mengembangkan energi baru dan terbarukan.

FOTO : Humas Medco Energi

Menurut Hilmi Panigoro Direktur Utama PT Medco Energi Internasional saat berbicara pada Webinar Media Gathering & Jurnalistik Competition Medco Energi, Selasa (8/12), kini banyak perusahaan migas besar mulai mengalihkan fokusnya dari energi fosil ke renewable energy.

“Tetapi Indonesia unik. Indonesia masih tetap membutuhkan produksi minyak yang besar. Hari ini kita membutuhkan sekitar 1,6 juta barel oil per hari dan masih tumbuh, sedangkan produksi minyak nasional hanya 700.000 bph,” katanya.

Medco yang mulai berdiri tahun 1980 sebagai perusahaan jasa pengeboran Indonesia pertama, kini memiliki tiga segmen bisnis utama yaitu minyak & gas, ketenagalistrikan, dan pertambangan.

Selain tetap berusaha di sektor minyak dan gas, menurut Hilmi Panigoro Medco juga akan terus mengembangkan bisnis kelistrikan yang sudah dimulai sejak perusahaan Medco Power Indonesia berdiri tahun 2004. “Pendirian Medco Power sebenarnya adalah upaya perusahaan untuk memasuki transisi energi. Semua akan elektrifikasi, mobil, kereta, semua kendaraan umum saya yakin akhirnya akan memakai listrik,” ujarnya.

Hilmi Panigoro optimis, “Ini adalah energi masa depan, elektrifikasi merupakan suatu kenyataan yang akan terjadi di dunia energi. Konsumen akan mengambil energi berupa listrik. Ini adalah pilar yang sangat penting bagi Medco Energi.”

Hilmi juga memprediksi bauran energi untuk energi baru terbarukan yang diatur PP No. 79 Tahun 2014 secara bertahap akan berjalan. “Medco Power akan fokus di clean energy,  yang fosil tinggal gas saja. Gas itu kan sebenarnya fosil tapi relatif bersih,” kata peraih gelar MSc dari Colorado School of Mines, Amerika Serikat.

Panas Bumi

Menurut Direktur Utama PT Medco Power Indonesia Eka Satria, perusahaan yang dipimpinnyaa kini mengelola dan mengoperasikan energi listrik kapasitas 3.796 MW yang dihasilkan dari pembangkit sendiri (IPP/

independent power producer) dan jasa operasi dan pemeliharaan (O&M/operation & maintenance). “Kami optimistis mampu meningkatkan kapasitas jadi 5.000 MW dalam lima tahun ke depan. ini seiring dengan pengembangan pembangkit berbasis EBT,” ujarnya.

Eka Satria optimis, listrik akan memegang peran sentral dalam pemenuhan energi di Indonesia dan demand listrik berbasis EBT juga akan semakin meningkat untuk memenuhi bauran EBT 23 persen tahun 2025.

Lihat Juga  Kinerja Positif PTBA, Kuartal III - 2020 Cetak Laba Rp1,7 Triliun

Berbicara pada Webinar Media Gathering & Jurnalistik Competition Medco Energi, Eka Satria menjelaskan, ke depan MPI akan fokus mengembangkan enam jenis energi bersih, yaitu gas/LNG to power, panas bumi, energi surya, energi hydro dan mini hydro, energi angin, hingga masuk ke ekosistem kendaraan listrik (EV/ Electric Vehicle). “Secara keseluruhan ada empat pilar bisnis Medco Power yakni gas to power, geothermal, renewables dan O&M services,” katanya.

Untuk unit usaha panas bumi, menurut Eka Satria, Medco Power kini memiliki tiga proyek, yaitu PLTP Sarullah di Sumatera Utara (Sumut), PLTP Ijen di Jawa Timur (Jatim) dan PLTP Bonjol di Sumatera Barat (Sumbar).

PLTP Sarulla di di distrik Pahae Jae dan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Utara (Sumut) dengan kapasitas 330 MW operasi komersial unit pertama dan kedua telah dimulai 18 Maret 2017 dan 2 Oktober 2017. PLTP Sarulla saat ini merupakan kontrak tunggal terbesar di dunia.

Kemudian PLTP Ijen di Jatim berkapasitas 2 x 55 MW saat ini masih dalam tahap pengembangan dan eksplorasi. Targetnya bisa beroperasi komersial (COD/ Commercial Operation Date) untuk unit 1 pada tahun 2024 dan unit 2 pada 2026.

“Proyek panas bumi yang ketiga adalah Bonjol dengan potensi kapasitas 60 MWe. Ke depan untuk energi terbarukan kami tetap terus mencoba mencari aset-aset baru yang bisa dikembangkan,” ujar Eka Satria.

Jika Indonesia berhasil mengembangkan energi panas bumi, salah satunya kontribusi Medco Energi, maka bangsa ini akan memperoleh manfaat ganda. Di satu sisi, panas bumi mampu menjadi penggerak kegiatan ekonomi, di sisi lain memperkuat kepeloporan Indonesia dalam pengembangan energi ramah lingkungan serta mengendalikan pemanasan global atau perubahan iklim. Panas bumi merupakan sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan (friendly energy resources) dibandingkan dengan sumber energi fosil.

Sebagai sumber energi yang ramah terhadap lingkungan, ada beberapa alasan yang mendukung, diantaranya, emisi yang dilepas ke atmosfir memiliki kandungan SO, CO, NO dan partikel padat sangat rendah. Kemudian Dalam operasional PLTP memerlukan lahan yang relatif terbatas.

Semakin banyak PLTP beroperasi di Indonesia berarti akan meningkatkan kapasitas energi listrik yang berarti pula mengurangi subsidi APBN untuk listrik. Dengan pembangkit listrik panas tenaga bangsa ini juga akan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) atau energi fosil yang masih menjadi sumber utama energi pembangkit listrik di Indonesia.

Sumber energi yang digunakan PT PLN untuk pembangkit yang terbesar adalah batu bara (sekitar 47 persen), gas alam (sekitar 25 persen), minyak bumi 17 persen, dan energi terbarukan (11 persen). Untuk energi terbarukan yang berasal dari panas bumi PLN bisa membangun PLTP dengan kapasitas sebesar mencapai 7.000 MW.

Pemerintah kini telah menetapkan energi panas bumi sebagi sumber pembangkit listrik utama yang ramah lingkungan pada masa depan. Energi panas bumi telah lama masuk dalam matriks energi Indonesia. Harapan kita semua Indonesia perlu mempercepat produksi listrik dari energi panas bumi bisa lebih cepat karena Indonesia mempunyai potensi panas bumi yang besar.

Editor : Maspril Aries

 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close