LifeStyle

Idealisme dan Akhlak Kunci Pemberantasan Korupsi

Testimonial Buku “The Email : Mengeja Gelisah Merangkai Asa”

Oleh : Khalifardinof (Ketua Komisariat HMI FEM IPB)

FOTO : Dokumen Pribadi

RESENSI BUKU — Lama sudah saya tak mendengar kata “Idealisme.” Rasanya tak begitu mengherankan, mengingat 2020 menjadi tahun hidup dan mati bagi banyak orang. Sektor bisnis dan industri yang bertahan puluhan tahun terpaksa tutup, mereka yang terpapar terpaksa terkurung di dalam ruang isolasir. Orang melakukan segala macam cara demi mempertahankan pijakan kakinya bahkan menghalalkan berbagai macam metode untuk bertahan.

Dalam kekalutan tersebut, seorang mantan pegawai senior KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Nanang Farid Syam menerbitkan buku berjudul “The Email: Mengeja Gelisah Merantai Asa”.

Membaca buku setebal 230 halaman ini, ada beberapa hal yang cukup menampar-nampar nurani saya. Bagaimana tidak, gelisah akibat kondisi bangsa akhir-akhir ini mungkin dirasakan oleh banyak orang?

Namun, apakah orang-orang tersebut mampu turut “gelisah” seperti yang Uda Nanang (sapaan akrab penulis Nanang Farid Syam) risaukan?  Uda Nanang dalam buku menuangkan kegelisahannya karena negeri yang dicintai, dijaga, dan dibelanya justru dikelola tidak sebagaimana idealisme yang Uda Nanang amalkan amalkan sehari-hari.

Dalam buku yang edisi cetakan pertama terbit November 2020 dan edisi percetakan kedua pada Desember 2020, saya menemukan formula ideal untuk menjadi prinsip seorang penegak hukum. Uda Nanang menuliskannya, “Penegak hukum harus membuka telinga lebar-lebar dan disaat yang sama mendekap erat prinsip dan etika.”

Lihat Juga  Museum Sumsel Sebagai Wahana Edukasi Karakter

Uda Nanang menggambarnya dalam membangun relasi dengan kolega-koleganya di lembaga lain. Uda Nanang sangat sering melakukan komunikasi antar lembaga sembari menebarkan pesan-pesan anti korupsi ke lembaga pemerintahan lain namun ia juga menyebutkan, enggan melihat ada pegawai KPK yang ditraktir makan oleh ASN/pejabat lembaga lain.

Sebagai mantan aktivis, Uda Nanang tetap mengobarkan semangat aktivismenya ketika menjadi seorang pegawai KPK. Uda Nanang menjelaskan bahwa seorang pegawai KPK yang juga manusia bisa harus memiliki jiwa layaknya seorang aktivis. Sikap kritis menjadi amat penting untuk menjaga iklim demokrasi di dalam lembaga pemerintahan. Bukti nyata yang terjadi di KPK ialah adanya “Wadah Pegawai” yang berperan bagaikan komisioner keenam.

Buku ini amat nikmat dibaca dikala kita berjuang di tengah pandemi saat genggaman idealisme sedang renggang-renggangnya. Kita dapat belajar dari Uda Nanang bahwa mendekap erat idealisme dan prinsip kita hari ini akan menjadikan kita pribadi yang tangguh dan terhormat.

Lihat Juga  Passing Grade CPNS Turun, Tingkat Kesulitan Tes SKD Naik

Sebagaimana kutipan dari Tan Malaka yang penulis kutip berulang kali dalam buku “Air Berkumpul dengan Air, Minyak Berkumpul dengan Minyak, setiap orang berkumpul dengan jenis dan wataknya.” Jangan risau kawan, mungkin hari ini kau mendapat banyak orang yang mengkritik dan skeptis dengan Idealisme mu. Sebagaimana tema buku tersebut, justru orang-orang tersebutlah yang merangkaikan asa untuk masa depan bangsa ini.

Sikap itulah yang diamalkan Uda Nanang selama mengarungi samudera pemberantasan korupsi di Indonesia. Buku setebal 230 halaman tersebut membawa pesan kepada bangsa ini, bahwa mereka yang memegang teguh idealisme tidak akan melangkah sendirian. Walau kini perjalanannya di KPK telah purna, Uda Nanang tidak terlihat akan berubah. Hal tersebut saya yakini akibat Uda Nanang purna dari KPK pun karena menolak untuk “berubah”.

Judul Buku : The Email: Mengeja Gelisah Merantai Asa
Penulis : Nanang Farid Syam
Editor: Lutfi Avianto
Penerbit : Binsar Hiras Publisher
Cetakan I November 2020
Cetakan II Desember 2020
Halaman : 230

Editor : Maspril Aries

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close