MARKET

Semen China Ubrak-Abrik Pasar, Pekerja Pabrik Semen Geruduk Istana

EkbisNews.com, Jakarta – Politikus Gerindra Andra Rosiade bersama puluhan pekerja yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Industri Semen Indonesia menyambangi Kantor Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko untuk mengadukan produsen semen China yang diduga melakukan praktik banting harga atau predatory pricing yang, Jakarta, Senin (2/9/2019).

Dalam kesempatan tersebut, Andre bersama serikat pekerja mengadu kepada pihak Istana atas langkah produsen semen dari prinsipak China yang makin meramaikan persaingan pasar semen di Indonesia, diduga melakukan praktik banting harga atau predatory pricing.

“Dalam rangka melaporkan praktik predatory pricing yang dilakukan semen Tiongkok,” kata Andre di kompleks kepresidenan, Jakarta.

Andre mengaku telah melaporkan dugaan banting harga yang dilakukan produsen semen China kepada Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Namun, perlu ada langkah konkret dari Istana perihal hal ini.

Lihat Juga  Petani Kopi di Pagaralam Diminta Panen Sistem Petik Merah

“Presiden melalui kepala staf kepresidenan bisa mengambil langkah konkret,” jelas

seperti dikutip dari cnbcindonesia.Andre meminta pemerintah tak lagi memberikan izin pembangunan pabrik semen baru. Beberapa tahun terakhir, prinsipal semen asal China membangun pabrik di Indonesia dan produknya bersaing dengan pabrik semen yang sudah lama berdiri termasuk BUMN.

“Padahal kita surplus 35 juta ton per tahun. Lalu kita juga akan meminta pemerintah, presiden untuk meminta menteri perindustrian segera mencabut moratorium pembangunan pabrik semen baru,”

“Kita tidak butuh pembangunan semen baru, apalagi yang dilakukan oleh investor dari Tiongkok. Karena apa? Sampai 2030, Indonesia surplus semen. Sekali lagi, pembangunan pabrik semen baru tidak dibutuhkan bagi bangsa ini,” tegas Andre.

Lihat Juga  Permintaan Minus, Indocement Kejar Target Usai Lebaran

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker